Dalam AICIS 19, Dosen INSURI Ungkap Fenomena Akun Medsos Garis Lucu

October, 05 2019 15:47
Dalam AICIS 19, Dosen INSURI Ungkap Fenomena Akun Medsos Garis Lucu
Oleh Humas Insuri Po.

Ponorogo (5/10) Dosen Fakultas Dakwah INSURI Ponorogo, Dawam MR, berhasil memaparkan hasil penelitiannya tentang fenomena akun media sosial garis lucu dalam 19th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI di Mercure Batavia Hotel, Jakarta, pada Kamis, 3 Oktober 2019.

Dalam presentasinya, Dawam mengungkapkan bahwa fenomena munculnya akun-akun garis lucu tersebut merupakan meme event.

"Merujuk pada teori Dawkins dan Davison, saya melihat bahwa telah terjadi meme event, di mana akun NU Garis Lucu berhasil menjadi meme yang direplikasi oleh akun-akun dari entitas organisasi lain," ujar penerima Beasiswa MORA 5000 Doktor Luar Negeri ini.

Eksistensi akun Twitter NU Garis Lucu ini, dalam makalah tersebut, kemudian direplikasi oleh banyak akun dari entitas lain, baik yang seolah-olah merepresentasikan diri sebagai wakil organisasi tertentu ataupun tidak. Terjadinya replikasi ini, menurut Dawam, merupakan wujud dari meme event, karena ada semacam transmisi budaya dengan pola tertentu, yakni genre garis lucu.

"Dalam riset ini, saya menjadikan akun NU Garis Lucu sebagai core dan memilih akun Muhammadiyin Garis Lucu, Gontor Garis Lucu, HTI Garis Lucu, LDII Garis Lucu, dan Tasawuf Garis Lucu dalam kolam meme. Pemilihan ini berdasarkan pada faktor umur, popularitas, keaktifan, dan interaksi," lanjut Koordinator PKM LP2M INSURI ini.

Meski berasal dari entitas kelompok yang berbeda-beda, baik formal dan jelas keberadaannya seperti NU, Muhammadiyah, dan LDII, ataupun yang tidak formal atau satir seperti HTI dan Tasawuf, akun-akun tersebut memiliki kesamaan ide.

"Terdapat tiga jenis cuitan sebenarnya, yakni korespondensi satir dan jenaka, penyebaran info dari organisasi induk, dan penyebaran pendapat tokoh tertentu, namun ragam akun Garis Lucu ini menunjukkan bahwa mereka berupaya untuk menyebarkan pesan agama dengan cara yang menyenangkan. Cara yang santuy, kata anak jaman sekarang," pungkas dosen muda yang juga aktivis GP Ansor ini.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU