Dosen INSURI Kaji Kelas Menengah Jawa-Melayu di NCKU Taiwan

October, 07 2019 16:44
Dosen INSURI Kaji Kelas Menengah Jawa-Melayu di NCKU Taiwan
Oleh Humas INSURI Po

Ponorogo (07/10) Arik Dwijayanto, salah satu staf pengajar di Fakultas Dakwah INSURI Ponorogo, turut berpartisipasi dalam kegiatan Indonesian-Taiwanese Workshop on Merchants, Scholars, and Faith: Integrated Islamization in the Perpetual Development of Ummah di NCKU Taiwan, 4-5 Oktober 2019.

Workshop tersebut adalah program kerjasama yang diselenggarakan oleh National Cheng Kung University Taiwan dan Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan menghadirkan 17 pembicara dari Indonesia dan Taiwan untuk memaparkan hasil penelitian mengenai tema terkait.

Dalam sesi pertama presentasi Young Scholars, Arik mempresentasikan paper berjudul The Emergence of Javanese-Malay Middle Class in Malaysia.

"Keberadaan diaspora Jawa di Malaysia merupakan tema yang sudah cukup lama saya teliti. Dari bacaan tersebut, saya menemukan terdapat semacam mobilitas vertikal, di mana kebanyakan keturunan Jawa tersebut dahulunya bekerja sebagai petani, pekerja konstruksi, hingga penambang, namun kini lebih banyak dari mereka yang bekerja sebagai bankir, pilot, hingga politisi dan pendakwah," ujar penerima Beasiswa MORA 5000 Doktor ini.

Pergeseran jenis pekerjaan tersebut, menurut Arik, tidak lepas dari kebijakan pemerintah Malaysia dalam New Economic Policy (NEP) pada tahun 1978 yang merangsang pertumbuhan ekonomi bumiputera (orang Melayu).

"Privilese dari pemerintah terhadap orang Melayu, termasuk yang berakar suku Jawa tentu saja, sekurang-kurangnya diwujudkan dalam penyediaan fasilitas pemukiman, pendidikan, dan akses kerja," lanjut Koordinator Kerjasama LP2M INSURI ini.

Meski setelah sekian generasi dan akhirnya menduduki status kelas menengah dengan kewarganegaraan Malaysia, kebanyakan dari mereka tetap konsisten memertahankan identitas ke-Jawa-annya.

"Terdapat beberapa model pemertahanan tradisi leluhurnya di Jawa yang mereka jalankan hingga saat ini" pungkas dosen muda yang juga aktivis GP Ansor ini.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU