Seminar Kewirausaahaan HMPS HES: Kenalkan Prinsip ATM dalam Berwirausaha

January, 28 2021 16:12
Seminar Kewirausaahaan HMPS HES: Kenalkan Prinsip ATM dalam Berwirausaha
Oleh Intan P/Metamorfosis

Ditengah situasi PANDEMI Covid 19, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HMPS HES)  Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, menyelenggarakan Seminar Hukum dan Kewirausahaan dengan protokol ketat. Seminar tersebut digelar di aula gedung E  di kampus hijau Insuri Ponorogo, pada Rabu 27 Januari 2021. Seminar dengan peserta terbatas sekitar 35 orang mahasiswa, dimulai pukul 14.00 WIB. Peserta dari internal INSURI ini utamanya dari  program studi HES (Hukum Ekonomi Syariah), ES (Ekonomi Syariah) dan beberapa delegasi dari organisasi mahasiswa INSURI Ponorogo. Salah satu panitia kegiatan ini, Loundri Fitria Albaddi’i mengatakan “kegiatan seminar ini bertujuan agar selain mahasiswa mempurluas khazanah teoritik, mahasiswa juga mengetahui realitas kondisi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) khususnya di Ponorogo.”

Kegiatan yang menghadirkan Alan Dharlain, SE, M.E dari dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (PERDAGKUM) Kabupaten Ponorogo. Alan menyatakan “salah satu tips penting ber berwirausaha adalah ATM, yaitu Amati, Tiru, Modifikasi. Amati kondisi sekitar kita, termasuk berbagai varian jenis usahanya, tiru beberapa aspek kebaikannya, dan modifikasi dengan berbagai kreatifitas baru.

Setidaknya ada beberapa dasar hukum penting yang dibahas yakni tentang pengembangan Wirausaha muda, utamanya pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, yakni Undang-Undang Tahun 2008 nomor 20,  Tentang Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah, Selain itu Undang-undang tersebut ditegaskan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 98 Tahun 2014 Tentang Perizinan Untuk Usaha Mikro Dan Kecil serta Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 83 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pemberian Izin Usaha Mikro Dan Kecil. Mahasiswa juga dikenalkan dengan berbagai jenis usaha yakni Usaha Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah, Usaha Besar. dalam UMKM.

“Jika pada Usaha Mikro memiliki kekayaan Rp. 50.000.000,- dan menghasilkan uang tahunan paling banyak RP. 300.000.000,-,  sementara Usaha Kecil memiliki kekayaan Rp. 50.000.000,- dan menghasilkan uang tahunan paling banyak Rp. 250.000.000, -. Ditingkat yang lebih tinggi terdapat Usaha Usaha Menengah yang memiliki kekayaan Rp. 500.000.000,- dan menghasilkan uang tahunan paling banyak RP. 10.000.000.000,-, sementara Usaha Besar memiliki kekayaan  bersih lebih dari Rp. 10.000.000.000,- tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.” Tegasnya.

Terkait soal pemasaran produk UMKM, Alan Dharlain, SE, M.E menegaskan bahwa produk yang telah memiliki PIRT bisa memasuki pasar yang lebih luas misalnya retail modern. “Kebutuhan seseorang menggunakan PIRT, yaitu ingin masuk ke pertokoan (retail) modern, dan diperbolehkan memasuki jaringan pertokoan retail dengan syarat makanan ringan,tersebut telah mempunyai PIRT”tegasnya.

Narasumber lain dari Dinas Perdagkum, Erlangga Prio Utomo, ST., M.MT menyatakan seseorang bisa dianggap seorang wirausaha yaitu ketika ia sudah memiliki surat ijin usaha, perijinan integrasi melalui Online Single Submission (OSS). “Pendaftaran surat ijin usaha bisa diakses di website oss.co.id , dengan syarat dan ketentuan yaitu, mempunyai email aktif dan no KTP (1 ktp hanya bisa digunakan untuk satu akun)” tegas Erlangga.//