Tipe Apa Mahasiswamu?

July, 15 2019 11:13
Tipe Apa Mahasiswamu?
Oleh Wahyu Hanafi*

Menjadi mahasiswa adalah kebutuhan dan tren remaja masa kini. Untuk saat ini, lulus jenjang SMA sederajat dirasa masih kurang. Mari kita tengok ke belakang sesaat. Di era tahun 1980-1990-an, remaja yang menjadi mahasiswa bisa dihitung jari. Bisa jadi dalam satu kampung hanya ada dua-tiga remaja yang melanjutkan jenjang pendidikan tinggi. Selain karena faktor biaya mahal, alternatif bekerja usai SMA menjadi pilihan utama. Mengenyam bangku kuliah menjadi hal langka dan hanya dijangkau oleh keluarga yang berkecukupan. Remaja yang kuliah di kisaran tahun tersebut dinilai cukup bergengsi. Memakai kemeja, celana begi, sepatu pantofel, dan jam tangan merk “seiko”, berkendara motor Yamaha 1980 warna merah, dan itu sudah “wahh” banget. Fakultas Ekonomi dan fakultas Hukum menjadi pilihan populer mahasiswa saat itu sebelum bergeser ke tahun 2000-nan yang memposisikan fakultas pendidikan menjadi sasaran.

Semenjak tahun 2000-an hingga saat ini, kuliah adalah kebutuhan primer. Moslow (1970) menyebut bahwa adanya pendidikan tinggi untuk menyetarakan kebutuhan aktualisasi diri (self actualitation needs) dengan kebutuhan fisiologis. Desakan kebutuhan pasar dan persaingan global menuntut para generasi muda untuk memiliki kapasitas akademik yang baik dan keterampilan yang mewadahi. Tak heran, jika saat ini rata-rata remaja usai SMA melanjutkan ke pendidikan tinggi. Remaja yang mengenyam pendidikan tinggi bukan lagi hal yang langka. Mereka yang tinggal di perkotaan dan pedesaan sudah mulai ramai-ramai masuk kuliah. Sedikit ditemukan dari mereka yang berijazah SMA sederajat. Bekerja akan dilakukan minimal selepas menempuh strata satu (S1)

Menjadi mahasiswa pasti memiliki kisah suka dan duka. Sebelum menapakan kaki ke pendidikan tinggi, alangkah baiknya untuk refleksi diri. Misi dan alasan apa yang hendak dituju saat duduk di bangku kuliah. Dengan demikian, pasti ditemukan arah, hal, dan sikap yang hendak dilakukan saat kuliah, minimal sebagi alarm pengingat dan kendali diri untuk sekedar menjadi mahasiswa parodi.

Ramainya dunia kampus dan perkembangan teknologi banyak membuat mahasiswa terlena akan jati dirinya. Mahasiswa itu terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, dinamis, sosial, dan mandiri. Dengan hal demikian, mereka memiliki tanggung jawab pribadi maupun kelompok terhadap agama, intelektual, sosial, kemasyarakatan, dan bangsa. Mahasiswa memiliki peran untuk mengembangkan diri dalam bidang ilmu yang ditekuninya sehingga dapat memiliki kemampuan untuk memikul tanggungjawab intelektualnya. Mahasiswa juga berperan untuk menjadi jembatan antara dunia teoritis dan empiris. Artinya, mampu memetakan dan memecahkan kompleksitas permasalahan hidup yang berkaitan dengan bidangnya. Selain itu, mahasiswa harus mampu berperan sebagai dinamisator perubahan masyarakat untuk lebih baik sekaligus menjadi pengontrol perubahan sosial.

Jejak langkah menjadi mahasiswa tentu terbentuk secara heterogen. Mereka yang sadar akan jati diri mahasiswa akan bersikap layaknya mahasiswa. Bertindak sesuai misi yang dirancang sebelumnya. Kemudian, mereka yang terlena akan jati diri mahasiswa, akan bersikap sebaliknya, lupa dengan peran dan fungsi sebagai mahasiswa serta beralih menjadi parodi. Sejauh apapun jika terlena, lebih baik kembali ke asalnya. Berikut disajikan tipe-tipe mahasiswa yang ditemui di perguruan tinggi. Kalian di bagian yang mana gaess ??

Pertama, mahasiswa akademis. Adalah mahasiswa yang menekuni bidang akademik. Rajin masuk kelas, membaca, berdiskusi, dan menulis. Senantiasa membawa suasana kelas tetap hidup dan berpikir kritis. Mereka rajin ke perpustakaan untuk membaca dan mengerjakan tugas. Tak suka nongki dan serba “wah”. Biasanya IPS dan IPK nya tinggi.  Berpakaian rapi, dan berwibawa. Berkendara sendiri dan terkadang nebeng teman. Menunjukan jati diri seorang akademisi. Suka mengikuti seminar dan konferensi. Tetapi, mereka tak mau andil dalam organisasi kemahasiwaan. Datang kuliah ya kuliah, bukan organisasi. Lepas kuliah ya pulang ke kost atau rumah. Organisasi bukan dipandang sebagai pengganggu kuliah, melainkan untuk pelengkap kuliah. Kebanyakan dari mereka lulus tepat waktu dan mendapat predikat cumlaude.

Kedua, mahasiswa aktivis. Mereka adalah tipe mahasiswa yang aktif di bidang organisasi kemahasiswaan. Biasanya tinggal di ruang-ruang dan bilik-bilik yang disediakan kampus. Kebanyakan ciri-ciri mereka adalah rambut gondrong, pakaian lusuh, bau badan menyengat, motor butut, suka berorasi dan demonstrasi. Mereka rajin menggelar kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang sifatnya internal maupun eksternal untuk mengasah kemampuan leaderships. Berdiskusi dan menggelar kajian adalah perihal wajib setiap hari. Suka nongki sampai larut malam untuk diskusi. Dengan hal demikian, tak jarang dari mereka memiliki sikap kritis baik secara akademis maupun kebijakan. Mereka mengasah kemampuan akademik melalui membaca dan berdiskusi dengan rekan di luar kelas. Mungkin kita sering menjumpai mahasiswa tersebut telat lulus bahkan sampai 14 semester dan terkadang Drop Out karena saking asyiknya berorganisasi dan jarang masuk kuliah. Sebagian dari mereka memiliki paradigma “kuliah itu tidak hanya di kelas, dan berorganisasi itu juga kuliah”.

Ketiga, mahasiswa akademis-aktivis. Adalah tipe mahasiswa yang ideal. Mereka mampu menyeimbangkan kebutuhan akademik dan kemahasiswaan secara proposional. Di bidang akademik biasanya rajin membaca, berdiskusi ilmiah, dan menulis. Selalu rampung mengerjakan tugas, memberikan suasana hidup di kelas, haus akan ilmu pengetahuan, dan berpikir kritis. Label kuliah adalah ya belajar, melatih berpikir dan mengembangkan potensi diri. Mereka selalu ingin dekat dengan dosen dan orang-orang yang memiliki kapabilitas baik. Bukan karena ingin didekati, tetapi agar mendapat ilmu dan pengalaman akademik. Menjadi asisten dosen adalah harapan. Cara berpakaian kadang ya rapi, minimal bisa sepadan-lah dengan yang lain. Untuk kendaraan ya biasa seperti umumnya. Tidak mahal dan tidak murah. Di bidang kemahasiswaan mereka aktif dalam berorganisasi. Mengikuti kepengurusan dari satuan terkecil hingga terbesar. Menghidupkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya intra dan ekstra. Belajar menjalin birokrasi yang sehat untuk bekal hidup di masyarakat dan dunia kerja. Mereka tidak meninggalkan tugas akademik meski disibukan dengan organisasi dan cenderung bisa membagi waktu “waktunya kuliah ya kuliah, dan waktunya organisasi ya organisasi”. Jadi, mereka bisa lulus tepat waktu meski menjadi aktivis. Kira-kira dari prosentasi 100 mahasiswa di kampus, hanya ada sekitar 5 mahasiswa.

Keempat, mahasiswa formalis. Mahasiswa tipe ini sering dijumpai di kampus untuk saat ini. Datang ke kampus sekedar formalitas. Mengikuti tren saat ini “gak kuliah ya gak gaul”. Memiliki paradigma “yang penting kuliah dan mendapat ijazah”. Berpakaian rapi ala kadarnya. Untuk kendaraan lumayan-lah, tak jelek-jelek amat. Honda Supra 125, Beath atau Vario Techno, yang penting bisa sepadan dengan umumnya. Datang ke kelas mengisi absen, mendengarkan diskusi dan kuliah dosen sekedarnya. Kalau ngantuk ya tidur. Tak pernah bertanya dan merespon diskusi. Diam adalah pilihan. Lepas dari kampus ya nongki, baru kemudian pulang. Tugas kadang dikerjakan dan tidak. Kalau tidak dikerjakan, minimal bisa titip nama dengan teman satu kelompok. Tak pernah diskusi ilmiah apalagi menulis. Boro-boro membaca buku, jadwal matakuliah kadang tak tahu. Tidak ikut organisasi karena dianggap menyita tenaga, waktu dan finansial. Toh, organisasi tidak menjamin mereka lulus.

Kelima, mahasiswa hedonis. Ini tipe yang paling parah. Datang ke kampus untuk mencari kesenangan dan mendekati mahasiswi. Dalam benak pikirannya adalah “di kampus ada banyak mahasiswi cantik”. Ciri-ciri mahasiswa ini biasanya; berpakaian serapi mungkin, selalu wangi, tampil cool, fashionable, tajir dan mengendarai motor bagus seperti Kawasaki Ninja-RR, dan Yamaha YZF-R15. Mereka sering pula mengendarai mobil mewah untuk memikat hati mahasiswi. Selalu memperhatikan penampilan dalam hitungan jam, suka mendekati mahasiswi-mahasiswi cantik, dan ganti-ganti pacar. Belajar bukanlah hal utama, yang penting berstatus mahasiswa. Masuk kelas, isi absen, persetan dengan diskusi dan kuliah dosen, tak pernah baca buku apalagi diskusi. Suka main HP saat kuliah, bukain chatt yang masuk, janjian nongki setelah kuliah, pilih-pilih tempat nongki dan meet up. Pulang sore bahkan larut malam karena harus mengantar pulang sang pacar. Tugas hanya titip nama, kalau gak gitu ya copy-paste dari google. Organisasi bukanlah pilihan hidup. Rata-rata dari mereka lemah secara akademis dan leaderships.

Sudah cukup jelas kan? dari refleksi demikian dimanakah posisi kita sekarang atau saat kita kuliah dulu gaess? sebagai mahasiswa sudah saaatnya untuk bisa bercermin diri, bertindak, berperilaku untuk apa dan siapa. Sejatinya mahasiswa itu mempunyai tugas berat seperti dijelaskan di atas. Maka, alangkah baiknya untuk menentukan sikap dan memaksimalkan potensi akademik serta leaderships selama masih duduk di bangku kuliah.***

*) Wahyu Hanafi, Dosen Linguistik Arab INSURI. Bergabung dengan Komunitas Lingkar Studi Bahasa & Sastra Arab PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2014-2015). Member Service Representative Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Cabang UPI Bandung semenjak 2018 dan saat ini ikut mendampingi organisasi PBA Ponorogo.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU