Kisah Learning from Home di Sekolah: Suatu Pengakuan

May, 11 2020 18:52
Kisah Learning from Home di Sekolah: Suatu Pengakuan
Oleh Murdianto An Nawie*

Kisah ini adalah pengalaman santri juga siswa dari sekolah atau madrasah formal. Biasanya kegiatan pembelajaran ini berlangsung pagi hari. Bagi mereka setelah ngaji usai ngaji pasan usai, mereka harus bersiap dengan Belajar dari Rumah yang digelar di Sekolah atau Madrasahnya. Sebagaimana kita tahu santri sebagian santri di pagi hari mereka juga berstatus sebagai peserta didik di sekolah atau madrasah (seperti SMP/MTs atau SMA/MA) dengan kurikulum yang berbeda.

Kang Ainun dan Kang Hilmi, narasumber kita ini adalah salah satunya. Menurut pengakuannya sekolah atau madrasah menyediakan portal e-learning untuk memfasilitasi proses pembelajaran Online ini. Ada juga yang menggunakan google classroom, ada juga yang masih memakai aplikasi messengger seperti whatsapps. Meskipun tergolong aplikasi yang tidak dikhususkan untuk kegiatan belajar mengajar, Whatsapps masih sering digunakan.

Aktifiras Belajar dari Rumah (Learning From Home) alias LfH di sekolah atau madrasah lebih kompleks situasinya. Beda dengan dipesantren yang menggunakan aplikasi Youtube dengan sumber belajar kitab yang ditetapkan, sang Kiai mengajar dengan Bandongan.  Rupanya LfH ala sekolah dan madrasah penuh cerita. Rupanya sebagian (besar) guru dan apalagi muridnya, belum siap dengan tradisi baru ini. Gagap. Semacam culture leg, gegar budaya. Kang Hilmi yang mendapatkan pendidikan formal dalam kompleks pesantren bertutur, peserta didik sudah bersiap dengan gadgetnya sejak jam 07.00 pagi. Namun sayang gurunya tak segera online, barangkali sebagian guru kehabisan pulsa data atau dalam kesibukan diluar aktifitas belajar. Biasalah, bagi sebagian  madrasah berbasis pesantren, pembelajaran Online benar-benar sesuatu yang baru. Gurunya masih menyesuaikan, menyesuaikan pola dan metodenya, kedisiplinannya hingga isi dompet untuk pulsanya.

Kang Ainun beda lagi, dia bersekolah formal di suatu Madrasah Negeri tingkat atas. Guru telah siap sejak awal. Cuman dia mengaku tiba-tiba ditengah proses pembelajaran ada guru subyek pelajaran lain yang tiba-tiba nyelonong menagih tugas. Ini tentu membuat siswa kalang kabut. Kelihatanya perencanaan dan semacam standar operasional nya belum tersusun secara baik. Bisa dimaklumi karena situasi darurat. Belajar dari Rumah (Learning from Home/LFH) sering berubah jadi momok. LfH mirip berbentuk berondongan tugas yang diberikan secara online, dan tagihan yang bersifat Online. Kadang kasih modul modul untuk dibaca, setumpuk tugas untuk dikerjakan. Dan bahkan penugasan itu jarang mendapatkan umpan balik dari guru. Misalnya, hasil koreksi atas tugas dikomunikasikan pada peserta didik. Tentu ini membuat peserta didik tidak dapat mengetahui perubahan kompetensi yang dicapainya dengan segera. 

Belajar dari Rumah serasa bukan suatu aktivitas kreatif. Mereka jarang didorong untuk  membuat karya mandiri, tentu yang berbasis kompetensi yang akan dicapai. Gara-gara situasi ini tugas bisa bertumpuk setinggi gunung. Apalagi bagi yang menunda menyelesaikan tugas. Tentu menumpuknya tugas terasa makin menyiksa peserta didik. Apalagi bagi mereka yang memiliki jadwal ngaji online di Pesantren, ini tantangan luar biasa. Mereka harus menyesuaikan jadwal yang tidak selalu sinergi antara madrasah negeri dengan pesantren tempat ngajinya.

Apalagi bila sambungan internet sering ngadat,  karena pulsa data segera habis. Pengalaman ini dialami guru maupun siswa. Bahkan ada yang mengaku pulsa data membengkak hingga lebih dari setengah juta rupiah di era Pandemi Covid 19. Setara dengan sekitar 50 kg beras. Rupanya belajar Daring dari rumah secara online telah merubah pola pengelolaan keuangan suatu keluarga. Belajar dari rumah adalah sebentuk list pengeluaran baru yang membuat proses pendidikan jauh lebih mahal. Apalagi jika kita bandingkan dengan kompetensi yang diperolehnya. Bisa termasuk investasi beresiko tinggi.

Sampai titik ini guru, orang tua dan peserta didik perlu merenungkan apakah praktik Belajar dari Rumah (Learning from Home), benar-benar sebagai proses belajar. Bukankah hakekat belajar itu sendiri adalah perubahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku peserta didik. Apakah perubahan itu dapat dicapai secara baik? Semoga demikian. Namun terlalu banyak yang harus diperbaiki.

 

*  Pengurus Bidang Pendidikan PW ISNU Jatim, Dosen Tetap di Program Pascasarjana INSURI Ponorogo, Orangtua dari Dua Anak yang Menginjak Remaja

PENERIMAAN MAHASISWA BARU