Benarkah Mahasiswa Aktor Perubahan Sosial?

September, 23 2019 15:33
Benarkah Mahasiswa Aktor Perubahan Sosial?
Oleh Murdianto An Nawie*

Hantaran

Ada Beberapa angka magis dalam gerakan kaum muda dan mahasiswa Indonesia. Yakni 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, dan 1998. Beberapa momentum historis pada tahun-tahun ini  memang dimulai dari gerakan kaum muda terpelajar. Pada era politik etis pada awal abad XX, momentum lahirnya kelas menengah terpelajar di Indonesia memberi warna baru dalam pola gerakan kaum muda di Indonesia. Era sebelumnya mereka ikut bergabung dalam gerakan fisik dan ke-laskar-an, misalnya hal ini terjadi di era Diponegoro, kita mengenal tokoh muda Sentot Ali Basyah Prawirodirjo misalnya. Di era ini gerakan kaum muda dan mahasiswa mulai melihat secara lebih luas problem yang dialami bangsa ini. Kolonialisme bukan hanya telah memasung secara fisik bangsa ini, namun juga telah melakukan eksploitasi dan pembodohan begitu rupa.

Adalah Tirtoadisoerjo 'Minke', HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Soewardi Surjaningrat, Soetomo, Hatta, Tan Malaka, dan Semaun untuk menyebut beberapa nama, dengan tujuan yang kurang lebih sama menentang kolonialisme. Tirto Adhi Soerjo, misalnya memulai perlawanan dengan gerakan jurnalisme advokasi melalui koran pribumi pertama Medan Prijaji. Soekarno mendirikan sebuah kelompok kajian bernama Algemene Studi Club, mereka melakukan kerja mulai kajian kritis terhadap politik kolonial, melakukan advokasi pada masalah-masalah yang dialami pribumi hindia, dan menerbitkan sebuah buletin pergerakan yakni  Soeloeh Indonesia Muda. Dan pada akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya PNI (Partai Nasional Indonesia). Sementara Soetomo dan Ki Hadjar Dewantoro, bergerak dalam kerja pencerdasan rakyat melalui Boedi Oetomo dan Taman Siswa. Ada melakukan gerakan ekstra parlementer dengan aksi massa dengan melakukan pengorganisiran massa rakyat, sebagaimana dilakukan Semaun dan Darsono dari SI Semarang yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya PKI. Sementara Tan Malaka dengan melakukan kerja-kerja under ground dengan pola-pola gerakan intelejen untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme

Beberapa pola inilah yang kemudian menjadi, cikal bakal pola gerakan yang berkembang di era sesudahnya. Dengan varian ideologi masing-masing tentunya. Pada masa-masa berikutnya kaum muda terpelajar menemukan beberapa momentum dimana harus ada perubahan radikal, dengan berbagai pola gerakan menyatu dalam sebuah tujuan. Lihatlah ketika 1928, saat kaum muda menegaskan jati diri kebangsaannya dalam Sumpah Pemuda, kesadaran akan kebutuhan suatu bangsa telah dilalui dengan keberanian menyatakan lahirnya sebuah bangsa baru yakni Indonesia.

Sementara di tahun 1945, dimana konstelasi global sedang tidak menentu, para aktivis gerakan bawah tanah, menekan Soekarno untuk segera memerdekakan diri. Sutan Sjahriir, Soekarni dan kawan-kawannya adalah kaum muda yang memiliki kemampuan membaca kecenderungan perubahan global sehingga mampu mengambil langkah-langkah sigap dalam kondisi genting. Pada tahun 1955-1966, saat Demokrasi Terpimpin mengalami masalah akut perbenturan antar kekuatan politik dan otoritarianisme, dimana saat itu gerakan mahasiswa saling bermusuhan, GMNI, PMKRI, HMI bertarung dengan CGMI (organisasi mahasiswa PKI. Kemudian PMII berdiri sebagai ujung konflik kader NU dan Masjumi di HMI, karena HMI terlalu condong kepada Masjumi, dan meminggirkan kader-kader NU. Gerakan Mahasiswa terpecah-pecah dalam pergumulan ideologis.

Ditengah situasi inilah tersebutlah nama Soe Hok Gie (Germasos), Mahbub Junaidi (PMII), Ahmad Wahib (HMI) yang bergerak dijalur jurnalisme, Zamroni (PMII), Hary Tjan Silalahi (PMKRI), Akbar Tandjung dan Fahmi Idris (HMI), dengan Zamroni sebagai ketuanya dengan mendirikan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mengumpulkan kekuatan melalui gerakan ekstra parlementer dan melakukan aksi-aksi massa. Mereka berada dalam satu front yang sama, walaupun dengan payung ideologi politik dan gerakan yang berbeda. Perubahan mereka ciptakan. Walaupun dikemudian hari gerakan mereka terbajak oleh beberapa kawan mereka sendiri dengan memasuki ruang kekuasaan.

Mereka yang masih setia pada idealisme bergerak kembali di era 1974, ketika pembangunan ala Orde Baru melahirkan penjajahan baru yakni investasi ekonomi. Tersebutlah nama Hariman Siregar, Murdianto, Heri Akhmadi dan beberapa nama lain yang harus mendekam dipenjara Orde Baru karena menolak politik investasi asing di Indonesia. Gerakan ini tidak bertahan lama, karena 4 tahun kemudian ditumpas melalui politik NKK/BKK (Normalisasi dan Birokratisasi Kehidupan Kampus), dimana mahasiswa di kungkung dalam penjara akademik semata. Mulai diperkenalkan konsep SKS, SKEK (Satuan Kredit Kegiatan Ekstra Kulikuler), organisasi tunggal Intra Kampus (Senat Mahasiswa) yang sangat mengekang kehidupan politik maupun keilmuan mahasiswa. Namun dalam kondisi demikian mahasiswa tetap bergerak melalui aras jurnalisme melalui majalah kampus, advokasi sosial dengan mendirikan ORNOP. Kita mengenal majalah mahasiswa Balairung dan Arena, misalnya, gerakan kajian dan advokasi sebagaimana yang dilakukan kaum muda seperti lembaga-lembaga non pemerintah serta kelompok kajian kecil di berbagai daerah. Saat kontrol negara menjamah segala hal, gerakan tersebut tidak berkembang luas. 

Namun kaum muda terpelajar tak pernah tiarap. Saat Orde Baru, sudah jauh melangkah dan menafikkan nilai-nilai Keadilan dan kemanusiaan dalam pembangunan yang dilakukannya, sekitar awal tahun 1990, gerakan mahasiswa di berbagai jalur mulai mengkonsolidasikan diri. Hal serupa kembali terulang tahun 1998, saat Soeharto dengan militerisme dan birokratisme yang sangat otoriter. Gerakan Mahasiswa yang sebelumnya menempuh jalur jurnalisme dan advokasi kembali bersatu dalam satu front dengan jargon : reformasi. Semua garis ideologi dan kepentingan menyatu kembali. Runtuhlah sebuah rezim yang sangat kuat dan menindas.

Namun yang harus menjadi catatan: diluar semua angka itu lah sebenarnya masalah terjadi :

Setelah perubahan radikal, banyak tokoh-tokoh gerakan yang harus memilih dua pilihan yang saling berlawanan. Pertama, masuk dalam kekuasaan dan menyerahkan agenda-agenda perubahan melalui proses politik, dengan resiko di cerca sebagai elit politik baru yang menjual idealisme, dengan pilihan kedua, setia pada pergerakan arus bawah dengan tetap berada pada basis perjuangan sebelumnya, dengan tetap mendorong agenda perubahan. Kedua hal ini selalu saja terjadi setelah angka-angka penting yang di sebutkan dimuka.

Sementara itu agenda perubahan telah dibajak kelompok-kelompok yang berkepentingan merebut kekuasaan dengan jargon yang sama juga: perubahanrevolusi atau reformasi. Sementara kekuatan gerakan kaum muda terpelajar, kembali tercerai berai dalam berbagai pola, ideologi dan gayanya masing-masing. Sementara beberapa diantara mereka telah melakoni perselingkuhan terbuka dengan kekuasaan.   

 

Pemikiran Kritis, Aksi Transformatif

Dalam melaksanakan tugasnya gerakan mahasiswa sebagai agen transformasi sosial modal yang pertama kali adalah membangun pemikiran kritis. Pengertian pemikiran kritis berporos pada tiga ciri pertama, pemikiran kritis berupaya menegakkan harkat dan martabat kemanusiaan dari berbagai belenggu yang diakibatkan oleh proses sosial yang bersifat profan. Kedua, pemikiran kritis melawan segala bentuk dominasi dan penindasan baik secara ekonomi, politik dan sosial, jadi pemikiran kritis sejak awal memihak kaum tertindas (mustadhafin)Ketiga, paradigma kritis membuka tabir dan selubung pengetahuan yang munafik dan hegemonik, oleh kepentingan ekonomi dan politis kelompok berkuasa.

Nalar kritis ini hanya bisa dibangun oleh aktivitas dialog antara teori dan realitas, antara aktivitas akademis dengan realitas sosial. Jadi mahasiswa memang harus melakukan diskusi secara intensif tentang konsep keilmuan, menyadari bahwa keilmuan tidak terlepas dari pertarungan kepentingan, dan secara langsung melakukan aksi sosial melalui pendampingan, aksi ekstraparlementer dan sekaligus menyuarakan ketimpangan sosial melalui media khas kelas menengah yakni tulisan. Mari kita belajar pada sejarah pergerakan kaum muda Indonesia di atas untuk melihat bagaimana nalar kritis harus dibangun.

Pasca 1998 ada momentum besar yang belum dituntaskan. Kekuatan kapitalisme multinasional mengusung jargon globalisasi. Anak pinak dari imperialisme dan kolonialisme ini, telah berkembang dewasa dengan corak dan gaya lebih canggih. Globalisasi, sebagian orang menyambutnya dengan gemuruh keceriaan. Harapan tentang terangnya masa depan. Namun di sisi lain juga lahir, pesimisme tentang masa depan yang muram. Setumpuk pandangan, perdebatan yang terangkum dalam ribuan tulisan, baik berupa buku, catatan-catatan kecil telah banyak terbit. Ada yang optimis, ada yang pesimis dengan globalisasi. Globalisasi bukan sekedar suatu kenyataan yang mengisi sebuah ruang dan waktu, dalam arti realitas perkembangan kehidupan manusia. Lebih dari itu globalisasi, adalah setumpuk ide yang melampaui ruang dan waktu tertentu. Namun yang pasti banyak orang meyakini globalisasi, sebagai fase perkembangan kehidupan sosial yang mesti di terima.Globalisasi yang hampir tidak lain adalah proses hilangnya batas-batas geografis akibat perkembangan tekhnologi informasi, transportasi dan komunikasi. Semua serba cepat, serba instant. Namun tidak bisa dikatakan bahwa globalisasi adalah kebutuhan alamiah (natural) manusia, atau sebentuk keniscayaan. Globalisasi bagaimanapun hanya akan menguntungkan mereka yang menguasai tiga pilar diatas. Dan dapat dipastikan akibat proses ini adalah proses marginalisasi (peminggiran) individu, komunitas masyarakat atau bahkan suatu bangsa akibat mereka tidak menguasai pilar inti globalisasi.

Pada saat yang sama pergerakan informasi, jaringan dan modal tidak lagi terhambat oleh batas-batas ruang dan waktu. Runtuhnya saham pabrik sepatu Nike di Bursa Saham Wall Street New York, dalam hitungan hari akan mengakibatkan PHK massal di pabrik Nike di Tangerang itulah salah satu ilustrasi. Globalisasi telah menyatu dengan kekuatan kapitalisme, yang memang telah mengakumulasi ilmu pengetahuan dan tekhnologi informasi. Lewat hegemoni globalisasi, tersebut banyak orang menderita amnesia kolektif, mereka lupa akan dosa-dosa kapitalisme sebagai cikal bakal globalisasi. Kapitalisme mutakhir bukan saja telah menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan (seperti proteksi, subsidi) di tingkat nasional untuk melempangkan jalan kapital. Kapitalisme muthakir juga menghilangkan batas-batas etis maupun ekologis pada perdagangan. Ketika segala sesuatu bisa di perdagangkan, maka apapun-baik itu seni budaya, sel, gen, tumbuhan, benih, pengetahuan, air, bahkan polusipun-bisa di perjual belikan. Berbagai platform digital telah merubah formasi sosial, orang menyebutnya era disrupsi. Terjadi perubahan besar yang makin tak terkendali. Dan tidak disadari hampir semua negeri di bumi mau tidak mau terjebak dalam kondisi semacam ini.

Dibagian lain, perkembangan global ini kemudian mendorong lahirnya situasi sosial dimana berbagai manusia dengan berbagai pandangan hidup dan agama serta keyakinan berada dalam ruang sosial tertentu. Yang terjadi bukan sekedar interaksi antar manusia semata. Namun lebih dari itu adalah interaksi gagasan dan nilai. Nilai-nilai yang dominan dan mampu menguasai ruang publik (misalnya lewat media sosial dan media massa massa) akan menguasai 'cara pandang' publik. Penguasaan ruang publik melalui media sosial dan media massa pada akhirnya memancing resistensi kelopok sosial atau komunitas kebudayaan yang tergusur oleh dominasi kelompok sosial tersebut. Fenomena globalisasi seperti ini akan mendorong segregasi sosial. Akan lahir lapisan-lapisan kelas dan budaya yang makin plural dan bahkan saling bertentangan. Globalisasi adalah tribalisasi, saat kelas dominan menempatkan kelas sosial lain sebagai sub-ordinat. Di era seperti ini mahasiswa memang tidak bisa hanya mengandalkan semangat saja, namun juga bekal-bekal penguasaan terhadap tekhnologi informasi, kecerdasan membaca fenomena global, profesionalitas, kemampuan pengorganisasian yang lebih canggih dan tentu dengan visi gerakan yang kuat.

Apakah mahasiswa masih menjadi kekuatan pembuka pintu perubahan? Ataukan itu adalah romantika yang diulang-ulang dalam Orientasi Mahasiswa Baru? Sejarah yang akan memberikan jawaban.//

*Murdianto An Nawie, Dosen Tetap PPS INSURI Ponorogoaktif dalam gerakan Mahasiswa di awal masa Reformasi

Tulisan ini dimuat pula dalam blog pribadi: drmurdianto.wordpress.com

PENERIMAAN MAHASISWA BARU