Berteater Membangun Karakter dari Panggung Pementasan

July, 09 2019 22:16
Berteater Membangun Karakter dari Panggung Pementasan
Oleh Murdianto An Nawie*

Lao Tze, seorang pujangga China, menyatakan: “Seorang seniman akan menghadap kebelakang saat ia menaiki kerbau tunggangan”. Seniman selalu mampu melihat sudut pandang yang unik, yang tak pernah dilihat orang lain. Seniman dan Sastrawan Rendra pernah membuat suatu kesimpulan penting bahawa: seniman adalah orang pertama, yang akan melihat tanda-tanda perubahan. Dan setiap perubahan di suatu era menunjukkan itu semua. Seorang seniman Solo, Wiji Tukul, adalah orang pertama yang menggunakan kalimat: “Hanya ada satu kata: Lawan!” dalam puisinya. Suatu kalimat yang menginspirasi para demonstran hingga saat ini, dan kalimat ini dibacakan dalam puisi beberapa tahun menjelang reformasi ditahun 1998.

Hal tersebut menjadi pengantar ilustrasi diatas menggambarkan pada kita, bahwa ada satu hal yang harus kita mengerti bahwa seni, bukanlah sekedar suatu permainan panggung artistik, suatu permainan warna pada suatu kanvas atau permainan kata dari suatu puisi. Namun lebih dari itu seni, adalah satu-satunya media olah rasa, yang mampu menarik garis yang menyambungkan jiwa (mind) termasuk didalamnya pikiran (kognisi) dan emosi dengan kenyataan. Berkesenian adalah suatu proses kreatif dimana manusia ditempa dan menempa dirinya dengan dengan sumbu intuisi dan imajinasi  dan membuatnya nyata dan dapat dinikmati sesama melalui kerja nyata.

Berteatermungkin kita akan membayangkan suatu panggung dengan suatu seni permainan peran diatasnya. Ya, itu adalah salah satunya. Dan untuk itu kita dituntut melatih kelenturan tubuh, kefasihan pengucapan suara dan vocal, berlatih bernafas secara teratur, menyerap berbagai pengetahuan dan wawasan dengan terus membaca, menulis dan menganalisis. Juga melatih konsentrasi dengan berlatih meditasi dan hingga menginternalisasikan karakter yang akan kita perankan. Lebih dari itu, teater adalah melatih kita mengambil suatu peran sekaligus memainkannya di panggung pementasan. Perlahan tapi pasti seorang aktor pemula di dunia teater akan dilatih untuk cermat memasuki panggung kehidupan nyata dengan peran yang kita pilih.

Berteater, dalam banyak penelitian psikologi dapat meningkatkan self esteem yang positif, kepercayaan diri, pengaturan (regulasi) emosi, kecerdasan emosional, sikap responsive, toleran, tanggung jawab dan berbagai dampak positif psikologis yang lain. Berteater dapat mempersambungkan keterputusan emosi dan kognisi (fikiran) dengan realitas (kenyataan), sembari menempa karakter dimana pengetahuan, fikir dan rasa disatukan dalam suatu perilaku dan peran. Para seniman teater terus berlatih secara terus-menerus, dengan kesadaran penuh, dan perlahan membentuk karakter yang responsif, bertanggung jawab dan mengerti tugas dan tanggung jawabnya dalam dunia nyata. 

Kita bisa belajar dari tokoh-tokoh dengan lekat dunia berkesenian ini. Emha Ainun Najib (Cak Nun) dengan Teater, Musik dan tulisan-tulisannya nya, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dengan Puisi dan Cerpennya, Kang Ahmad Tohari dengan Novelnya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Humornyadan sekian banyak seniman muslim yang patut kita tiru. Bahwa proses berkesenian, termasuk berteater, adalah landasan bagi suatu manusia berkarakter dan dapat berkarya lebih besar dari kehidupan. 

Kuatnya karakter para seniman khususnya seniman Teater, merujuk pada bukti banyaknya para seniman teater yang kemudian aktif di gerakan sosial (social movement). Gerakan Sosial yang dimaksud merujuk pada suatu upaya yang konsisten untuk melakukan kerja pendampingan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang mengalami penderitaan, marginalisasi, peminggiran, dan bahkan diskriminasi. Sederhananya gerakan sosial adalah pembelaan yang konsisten terhadap kaum mustadhafin, kaum yang mengalami penindasan akibat hubungan sosial yang tidak adil. Para seniman teater membuktikan keberpihakannya dengan melakukan pementasan hingga aksi-aksi jalanan yang tetap estetis, dari panggung-panggung pementasan hingga advokasi yang tak kenal lelah untuk membela kaum terpinggir.

Karakter dan keahlian seseorang sebagai seniman Teater ternyata relevan dalam membangun sebuah gerakan sosial, karena dia dapat mengartikulasikan  masalah-masalah sosial dalam tema-tema yang mudah diterima oleh masyarakat kebanyakan. Gerakan Sosial yang dilakukan kelompok seniman memiliki kelenturan tersendiri, dari berbagai ancaman dituduh subversi oleh kelompok dominan atau memiliki kekuasaan.  Gerakan sosial dengan penggunaan kesenian, merupaka gerakan sosial alternatif, apalagi kesenian yang bertumbuh dan berakar dari kebudayaan kaum marjinal.

*) Murdianto An Nawie, Dosen INSURI Ponorogo. Penggiat Teater Kampus dan Seni Rupa di IAIN Tulungagung 1998 – 2002, Peneliti Budaya Desantara Jakarta 2006 -2009, salah satu Anggota Dewan Kesenian Ponorogo 2015-2020

PENERIMAAN MAHASISWA BARU