Distingsi Menghafal dan Menalar

December, 14 2019 17:20
Distingsi Menghafal dan Menalar
Oleh Wahyu Hanafi*

Kedua term ini sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Lembaga pendidikan tradisional tidak bisa lepas dari metode menghafal. Karenanya ialah metode klasik yang harus konsen dipertahankan. Metode ini dikatakan sebagai hujjah memahami ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis dan analitis, sebagaimana yang dikatakan Buya Husein Muhammad.

Para pelajar di Timur Tengah lebih mengedepankan metode menghafal dibanding menalar. Kalau kita flashback pada masa periode klasik, para sahabat Nabi banyak yang memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa bahkan tidak sedikit yang mencapai derajat dhabith dalam meriwayatkan hadis.

Sedangkan menalar, merupakan proses berpikir yang bertolak dari pengamatan empirik untuk membentuk proposisi-proposisi agar menghasilkan sebuah konsep. Ialah salah satu metode pendidikan yang tren digunakan di Barat. Menalar membutuhkan variabel yang kompleks, seperti silogisme, analitis, dan matematis. Hasil sebuah riset tentu berproses dari sistemasi menalar, bukan menghafal.

Bagaimana krtitiknya? Di tahun 1956 Benjamin Bloom bersama kawan-kawannya merumuskan  kerangka kemampuan berpikir yang disebut Taksonomi Bloom. Terdapat tiga struktur terbawah yakni menghafal, memahami, dan mengaplikasikan termasuk dalam katagori Lower-Order Thinking Skill. Menghafal lebih tepat digunakan untuk materi-materi yang sifatnya deskriptif, bukan perhitungan. 

Hal demikian yang menjadi salah satu bahan evaluasi sejarah perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia hingga saat ini, dengan harapan kualitas pendidikan di Indonesia agar memiliki mutu baik. Tentu mendapati indikator-indikator untuk mengukur keberhasilan tersebut. 

Bagaimana dengan realita saat ini? Menteri Nadiem yang baru duduk di kursi kemendikbud kini telah memberi cuitan-cuitan yang menuai pro dan kontra. Ia menyebut kompetensi menghafal tak lagi dibutuhkan saat ini. Saat pelajar Indonesia harus berkompetisi dan mengejar ketertinggalan PISA yang kini duduk di peringkat 75 dari 81 negara belahan dunia, maka kemampuan menalar adalah kunci utama. Karena bidang-bidang yang diselenggarakan oleh PISA tak lepas dari matematika dan sains. 

Menteri lulusan Harvard ini jelas memberi keyword untuk proses keberhasilan pendidikan. Sebagai alumni Perguruan Tinggi yang branded yang mengedepankan pembelajaran analitis kritis, ia kini mencoba menorehkan gagasan metode ini agar berlaku untuk pelajar Indonesia. Jelas tidak boleh diterjemahkan mentah-mentah cuitan mas menteri ini.

Ketertinggalan pelajar Indonesia di bidang literasi, matematika, dan sains di belahan dunia ini cukup memprihatinkan dengan mempertimbangkan luas geografi negeri ini. Mengubah sistem pendidikan negeri ini butuh proses dan waktu. Tidak sekedar dari metode menghafal ke menalar, tetapi juga pada variabel lain. Jika indikator keberhasilan pendidikan Indonesia dilihat dari ranking PISA, maka menalar ialah metode yang harus digenjot untuk pelajar Indonesia.

*) Penulis ialah Pengajar di Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

PENERIMAAN MAHASISWA BARU