Global Warming Effect dan Resistensi Makhluk Hidup

July, 10 2019 08:20
 Global Warming Effect dan Resistensi Makhluk Hidup
Oleh Fuad Fitriawan*

Global warming atau pemanasan global, merupakan fenomena yang terjadi beberapa tahun terakhir hingga saat ini di belahan dunia. Hujan turun tidak seperti bulan dan musim biasanya. Kita ingat di Indonesia musim hujan ialah antara bulan November sampai dengan April. Waktu selebihnya adalah musim kemarau. Dua musim (hujan dan kemarau) yang sama-sama menjadi ciri khas wilayah tropis khususnya Indonesia saat ini mengalami pergeseran waktu. Demikian juga masalah serangga yang mulai punah akibat terkena racun pest dan insektisida. Dua contoh ini adalah sebagian kecil dari dampak perubahan iklim yang pemicunya adalah pemanasan global.

Isu pemanasan global mulai bergulir pada tahun 1975. Wallace Smith  Broecker profesor Columbia University yang ahli di bidang iklim telah mengukur dengan tepat fenomena alam berupa kenaikan suhu yang di tulis dalam jurnalnya. Beliau juga yang mencetuskan sebuah istilah “Ocean Conveyor Belt” suatu jaringan arus global yang memengaruhi segala sesuatu mulai dari suhu bumi hingga pola hujan.

Pemanasan global merupakan sebuah istilah yang menggambarkan situasi bumi yang mengalami kenaikan suhu akibat emisi (pelepasan) berlebih yang tidak mampu diikat oleh pengurainya (dalam hal ini tumbuhan sebagai pengurai). Sejak saat itu hingga tahun 2016 telah terjadi kenaikan suhu bumi sebanyak 1,6 derajat celcius. Sebagai pembandingnya adalah kenaikan 1 derajat celcius di wilayah katulistiwa berarti akan menaikkan sebanyak 12 derajat celcius di wilayah kutub utara dan antartika. Sejak 40 tahun terahir terjadi percepatan pencairan kutub utara dan antartika hingga enam kali lebih cepat. Berdasarkan catatan Proceeding The National Academy of Sains (PNAS) Amerika Serikat bahwa mencairnya es di Antartika saat ini telah mengakibatkan permukaan laut seluruh dunia meningkat lebih dari 1,4 cm antara kurun waktu dari tahun 1979 hingga 2017. Diperkirakan dalam catatan lain jika suhu bumi naik hingga 2 derajat celcius maka es di kutub akan habis. Hal tersebut akan berdampak bagi kelangsungan hidup makhluk bumi. Adanya hal tersebut juga akan menjadikan permukaan laut semakin tinggi. Beberapa video National Geographic menyebutkan saat ini wilayah New Orland di Amerika Utara telah merasakan dampak pemanasan global. Diperkirakan pada tahun 2100 kota London akan kehilangan daratannya dan pada tahun 2200 menara Eiffle di Prancis akan terlihat seper empat bagian atasnya.

Lalu bagaimana kondisi makhluk hidup termasuk manusia? banyak teori dan dokumenter sains fiction yang telah menggambarkannya mulai dari film yang berjudul “121212” hingga film fiktif yang berjudul “The Journey of The Earth”, dimana bumi tak ubahnya sebuah rongsokan yang dibawa keliling universe oleh penghuninya. Realitas saat ini telah tampak khususnya pada manusia. Disamping makhluk hidup lain yang mengalami retensi, kini manusia mengalami kebalikannya. Retensi tubuh terhadap penyakit kian memprihatinkan. Banyak faktor yang menyebabkan termasuk racun pest dan insektisida yang terakumulasi dalam tanaman pangan yang telah melebihi ambang baku mutu dan masuk ke tubuh.  Belum lagi gejala retensi terhadap penyakit, masifnya isu pengobatan herbal untuk alternatif pengobatan tubuh dan hal-hal lain yang menyangkut kompleksitas kesehatan.

Bagaimana peran pemerintah? sebenarnya banyak hal yang telah diupayakan mulai dari perjanjian Kyoto hingga forum BICC dan Komunike Bali. Namun, adanya hal tersebut tak lain adalah isapan jempol. PBB memperkirakan hanya ada waktu 12 tahun yang menjadi peluang manusia untuk menanggulanginya, dalam arti meminimalisir naiknya suhu bumi. Upaya demikian ternyata sulit tuntas lagi-lagi alasan ekonomi dan sektor industri yang menjadikan usaha-usaha mitigasi serta reboisasi yang tidak memiliki hasil yang signifikan. Ibaratnya 1 pohon bisa mereduksi polusi 2-3 kendaraan bermotor. Dalam rentan satu bulan, menumbuhkan 1 pohon memerlukan waktu lebih lama ketimbang mendatangkan motor baru. Lalu bagaimana kita berusaha minimal agar anak cucu kita tidak merasakan suhu “neraka” yang ada di dunia ini? Mari kita mulai dari lingkungan kita masing masing, untuk menggunakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).***

*) Fuad Fitriawan, adalah dosen Sains INSURI Ponorogo. Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan kini aktif meneliti dalam bidang sains terapan

PENERIMAAN MAHASISWA BARU