Kekerasan dan Imajinasi 'Kita - Mereka'

August, 24 2019 09:59
Kekerasan dan Imajinasi 'Kita - Mereka'
Oleh Murdianto An Nawie

Rupaya berbagai ungkapan kebencian dan tindak kekerasan yang terkait dengan simbol-simbol agama masih saja menghiasi linimasa di media sosial beberapa waktu terakhir. Fakta ini menunjukkan bahwa ‘berebut benar’, masih menjadi bagian dari perilaku keberagamaan sebagian bangsa kita. Melakukan klaim kebenaran (truth claim), dan berkonsekuensi pada penilaian bahwa nilai dan keyakinan yang berbeda dengan pelaku truth claim adalah perilaku yang pantas disesatkan atau mengandung kesalahan. Kita ingat berbagai tindak kekerasan biasanya diawali dengan propaganda bahwa orang lain sesat, menyimpang dan label-label yang merujuk pada ‘abnormalitas’.

Jika semua agama mengajarkan kebaikan, maka tindak kekerasan pada dasarnya bertentangan dengan tujuan suci yang diusung semua agama. Artinya, agama secara essensial mengajarkan nilai-nilai luhur dan penghormatan nilai-nilai kemanusian, pada kenyataannya paradoks dengan kenyataan sejarah. Saat ini orang berusaha untuk menghindar dari ketejerumusan dalam kubang sejarah untuk kesekian kalinya. Rentetan aksi kekerasan yang menggunakan simbol-simbol agama dan terhadap kelompok agama lainyang belakangan marak terjadi,  akibat klaim otensitas yang sejak puluhan abad lalu menjadi perebutan makna.

Pada perkembangannya kebanyakan kaum beragama mulai mengalami ‘refleksi’ spontan atas rentetan sejarah buruk umat beragama. Kesadaran ini tidak musti di pahami sebagai ‘humanisme naif’, tapi bahwa kemanusiaan sebuah agama harus bisa di ukur apakah ia dapat mengangkat menusia pada derajat kesempurnaannya.atau malah menjeremuskan manusia dalam kubang kekerasan yang tiada mengenal ujung. Sejalan dengan ini, maka agama tidak seharusnya menjadi alasan untuk melakukan yang justru menginjak-injak human digniti.

Jadi, adagium “agama untuk manusia” harus dipahami bahwa dengan agama, manusia semestinya menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, baik secara individual manupun kolektif. Jadi, bukan dalam pengertian humanisme naif yang meletakkan manusia sebagai titik pusat kosmos sambil merasa berhak untuk  melakuakan apapun tanpa mempedulikan keseimbangan tatanan kosmos.

Kesadaran ini akhirnya melahirkan gugatan-gugatan terhadap tafsir-tafsir keagamaan yang selama ini di rasa sering menjadi titik masuk bagi tindak-tindak yang manusiawi. Tidak perlu di tutup-tutupi bahwa seringkali tafsir keagamaan memainkan peranan penting dalam konflik-konflik kemanusiaan. Sejarah Perang Agama di Eropa yang hampir melumpuhkan Eropa terjadi karena tafsir agama ini. Begitu juga dengan pembelahan umat umat Islam hingga saat ini antara Sunni dengan Syii yang seringkali menjadi konflik terbuka dan terang-terangan juga dipicu dari sebab yang sama. Dari sini menyadarkan kita bahwa tafsir keagamaan telah begitu banyak andilnya dalam menentukan peradaban manusia. Karena begitu signifikansi posisinya inilah, maka proses evaluasi menjadi perlu untuk selalu digerakkan jika kita tidak ingin peradapan kita hancur justru karena klaim – klaim normatif agama.

Kesadaran inilah yang membuat kita juga merasa legitimate untuk mempertanyakan doktrin, Perlukah klaim ‘ide - ide Islam’ yang sekian lama selalu dijadikan ukuran baku untuk menilai kebenaran dan kesalahan seseorang atau kelompok dalam beragama. Barang kali justru pertanyaan inilah yang perlu kita selesaikan dulu. Jangan–jangan tuntutan pengakuan perlunya klaim ini, adalah semacam sikap romantis, yang mengidealisasi klaim ‘ide-ide islam’ sebagai pusat kebeanaran dalam beragama. Ataukah klaim itu yang kita gunakan untuk hidup dalam keragaman kehidupan yang ada.

Kalau memang seperti itu kenyataannya, apa bedanya kita dengan para apolog ‘agama’ naif yang terus berteriak bahwa seluruh persoalan telah tuntas di jawab oleh kitab suci-nya masing-masing sambil menuntut semua orang untuk mengikutinya. Sebuah sikap yang ujung–ujungnya anti-toleran, anti-pluralitas dan menista kemanusiaan. Sebuah ironi, bila kita –umat beragama – terjebak dalam situasi ini. Karena pluralitas bukanlah sekedar ide atau gagasan kosong, tapi kenyataan yang tidak tertolak dari kehidupan manusia.

Pandangan ini di benarkan oleh Komaruddin Hidayat (1998), yang menyebut ‘keragaman dan pluralitas’ keberagamaan adalah semacam truism atau kebenaran yang tak terbantahkan. Mengingkari kenyataan ini sama artinya dengan mengingkari kesadaran kognitif (pikiran) kita sendiri. Membayangkan dalam kehidupan dunia ini hanya ada satu kebenaran saja, sama artinya dengan menolak keberadaan ‘Kebenaran Yang Mutlak’. Dan oleh karena itu sangat tidak wajar melakukan oposisi antara ‘kebenaran milik kita’ dan ‘kesalahan milik mereka’

Hubungan Kuasa “We” dan “Other”

Pertanyaan pertama yang patut kita lontarkan adalah apakah benar–benar ada Ide-ide Islam atau yang sama sekali bukan Ide-ide Islam? Apakah kolompok Islam yang tidak mengusung “ide-ide Islam” benar-benar ada dengan sesungguhnya? Pertanyaan ini sesungguhnya mengandaikan bahwa pencitraan yang dilakukan oleh kelompok yang mengklaim mengusung “ide-ide Islam’ adalah sebuah konsep yang diturunkan dari kajian akademis. Sekaligus juga kumpulan ‘bayangan’ tentang kelompok yang sesat/yang lain (other).

Zainul Hamdi (2002) melihat, di dalam “ide-ide Islam” berkumpul sejumlah kode, kumpulan kosa kata (vocubulary) serta berbagai pra-angapan yang menjadi teks pengikat. Teks pengikat ini digunakan untuk menilai apa yang di sebut sebagai kelompok yang mengusung ”ide-ide Islam” atau “yang lain”. Terdapat obyek khas yang hanya diciptakan pikiran sehingga obyek yang sebenarnya fiktif berubah memperoleh status obyektif. Sekelompok orang yang hidup di tempat tertentu akan menciptakan batas-batas antara tanah tempat tinggal mereka dengan batas tanah luarnya.

Dengan kata lain, praktek universal untuk menyuguhkan kepada pikiran sendiri untuk suatu ruang yang akrab yang disebut “daerah kita (we)” dengan ruang lain yang lain yang asing yang disebut “daerah mereka (other)”. Hal ini adalah suatu cara untuk menciptakan pembedaan-pembedaan yang sepenuhnya bersifat arbriter atau sewenang-wenang, atau dalam bahasa jawa: sak kenék-e. Karena perbedaan antara” kita” dengan “mereka” tidak mensyaratkan pengakuan “mereka”. Inilah yang harus di hindari, penafikan keberadaan “mereka”

Cukup bagi “kita” untuk menentukan pembedaan dalam pikiran dan ”mereka” menjadi “mereka”. Baik dalam konteks wilayah maupun status mentalitasnya (ajaranya) ditetapkan sebagai berbeda dengan wilayah dan mentalitas (ajaran) “kita”. Kesimpulan akhirnya, mengandaikan ‘kita’ dan ‘mereka’ adalah berbeda secara dalam memahami ajaran formal agama, tidak berarti kita menegasikan-eksistensi atau menganggap mereka tidak ada. Kita tetap menghargai mereka dalam kacamata bahwa ‘kita’ dan ‘mereka’ adalah sama manusia. Yang secara fitrah berkehendak ingin mencapai kebenaran, dan disaat yang lain ‘kadangkala tersesat’ dan terdampar dalam ‘kebingungan’. Dan inilah yang akan mampu memberi warna keberagamaan yang santun, tanpa harus menganggap ‘kita’ selalu lebih dari ‘mereka’.

*Murdianto An Nawie, Dosen Program Pascasarjana INSURI Ponorogo

PENERIMAAN MAHASISWA BARU