Linguis Arab Klasik dan Proses Pembentukan Makna Bahasa

June, 05 2020 13:12
Linguis Arab Klasik dan Proses Pembentukan Makna Bahasa
Oleh Wahyu Hanafi*

Ngaji Linguistik Arab Part I

Proses pembentukan makna tidak bisa lepas dari historisitas makna yang dalam istilah semantik disebut dengan pendekatan sinkronik. Awal mula makna bahasa Arab dikaji oleh linguis Arab klasik seperti Al-Jahiz (256 H) sebagai embrio penyambung studi makna Al-Qur’an di masa Abbasiyah. Al-Jahiz yang berafiliasi teologi Muktazilah ini berpartisipasi dalam liberalisasi makna, ia mengemukakan teori nazm dalam karyanya al-Hawāyan. Al-Jahiz menyebut pembentukan makna memiliki relasi kuat (‘alāqah qawiyyah) antara lafal (al-laf), isyarat (al-isyārah), tulisan (al-kha), dan akad (al-‘aqd). Dengan empat pilar itu ia dapat menginterpretasikan makna bahasa secara sistemik dan koheren. Lafal mengeksplorasi makna, makna terkonstruk dari lafal, dan antara kedua unsur ini memiliki pertalian yang kuat.

Pemikiran Al-Jahiz ini memiliki pengaruh terhadap Abd Qahir Al-Jurjani (471 H). Ulama yang konsen di bidang uslūb al-kalimāt ini membuat proyeksi besar terhadap teori aqīqat dan majāz. Dua konsep ini dikupas dalam karyanya Asrār al-Balāghah. Al-Jurjani mengadopsi pemikiran Al-Jahiz dengan signifikasi baik terutama yang berkaitan dengan konstruksi makna. Al-Jurjani menyebut pertalian empat unsur yang dikemukakan oleh Al-Jahiz hanya mengarah pada pembentukan makna sinkronik. Kelemahannya, makna tidak dapat memasuki wilayah diakronik. Makna akan memberikan terminologi sendiri dengan struktur yang dibentuk secara internal. Ini menuai kritik dari Al-Jurjani, menurutnya saat makna dibetuk dengan sendirinya, maka hanya menempati fungsi makna (al-waďifah al-ma’nāwiyyah). Makna tidak dapat menjelaskan struktur kalimat yang lebih kompleks disaat makna dibentuk secara gramatikal (al-bunyāwi) terlebih disandingkan dengan teori metafor (majāz). Al-Jurjani memberikan solusi bagaimana struktur makna dengan teori nazm ini bisa diproyeksikan dengan makna gramatikal (al-ma’na al-bunyāwi) dan makna gaya bahasa (al-ma’na al-uslūby). Jika lafal merupakan wadah bagi makna, maka sudah barangtentu lafal akan mengikuti makna di posisi masing-masing. Jika posisi makna yang ada dalam diri seseorang berada di posisi pertama, maka hanya lafal yang diungkapkan untuk menunjukkan makna yang pertama diucapkan. Pemaknaan bahasa yang dibentuk Al-Jahiz demikian telah merambah dimensi aqīqat. Tugas selanjutnya ialah memberlakukan makna dalam kerangka metafor (majāz). Al-Jurjani menyebut, sebenarnya makna metafor bukanlah kemutlakan makna. Ia dapat berubah sesuai dengan konteks makna sinkronik yang dibentuk di permulaannya. Makna metafor hadir untuk memenuhi kebutuhan estetika kalimat (asālib al-kalimāt) dengan berbagai misi komunikan (mutakallim) kepada komunikator (mukhātab). Makna ini memiliki relasi kuat secara diakronik. Menghadirkan makna secara metafor dapat ditempuh dengan analisis empiris, fenomena sosial, maupun ideasi yang menjadi referen makna. Membentuk makna ini jauh lebih mudah karena linguis hanya perlu berspekulasi mengenai fenomena empiris dan ideasi serta mengaitkan dengan makna asli. Menurut Al-Jurjani dialektika konstruksi makna ini harus selaras dengan relasi sosial (‘alāqah ijtimā’iyyah). Makna ini sering melatarbelakangi sosiologi sastra yang dikaji para sastrawan Arab modern.

Apa yang dikemukakanoleh Al-Jahiz dan Al-Jurjani tersebut berbeda dengan pendapat Ibnu Jinni (390 H). Ia menyebut dua tahapan yang harus dilampaui dalam proses pembentukan makna. Pertama dengan metode isytiqāq aghīr, yakni makna dibetuk secara derivatif yang terpola pada asal kalimat. Satu-satunya jalan mengetahui makna harus mengetahui asal kalimat terlebih dahulu. Langkah ini yang kemudian dijadikan dalam studi morfologi secara derivatif (al-itilāhy) dan inflektif (al-lughawy). Kedua, isytiqāq kabīr. Bahwa makna dibentuk dengan asosiasi makna yang ada di sekitarnya. Dapat dikemukakan dengan persamaan huruf dan kalimat yang mengakibatkan konsep sinonim (taradduf) dan polisemi (musytarak). Namun, metode yang kedua ini sering menimbulkan ambiguitas makna atau taksa.

Dari pemikiran ketiga linguis Arab klasik tersebut dapat diketahui bahwa untuk memahami fenomena makna bahasa Arab terutama bahasa Al-Qur’an ternyata membutuhkan banyak perangkat. Konsep pembentukan makna yang ditawarkan ketiga linguis Arab klasik tersebut merupakan salah satu pendekatan guna memahami makna bahasa. Masih banyak lagi pendekatan dan metode membentuk makna terlebih di era post-modernisme pasca lahirnya aliran linguistik struktural, seakan makna memiliki relasi dengan berbagai unit seperti ikon, simbol, dan indeks.***

*) Wahyu Hanafi; Dosen Bahasa dan Sastra Arab INSURI; Editor in Chief Jurnal Aphorisme

PENERIMAAN MAHASISWA BARU