Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme

August, 05 2019 10:14
Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme
Oleh Tina Zulfa Suryani*

Dewasa ini pemerintah selalu menggalakkan pembelajaran berbasis keaktifan siswa. Mengingat pemerintah berharap dengan adanya keaktifan siswa pembelajaran dapat menjadi bermakna khususnya bagi anak didik.  Permasalahannya dalam mewujudkan hal tersebut tidak semua guru mampu menciptakan pembelajaran yang diinginkan. Masih banyak guru yang lebih memilih konsep pembelajaran tradisional. Mengingat konsep pembelajaran tradisional mudah diterapkan bagi semua guru, sementara pembelajaran yang modern guru dituntut untuk lebih aktif, lebih kreatif dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak didik.

Pemerintah sebenarnya tidak sembarangan mengarahkan pembelajaran berbasis keaktifan siswa ini. Hal ini dikarenakan pemerintah ingin menciptakan pembelajaran yang kondusif bagi anak didik yakni pendidikan yang menjadikan mereka bebas menyampaikan gagasan mereka di kelas. Oleh karenanya guru dituntut untuk menggali informasi seluas- luasnya demi menciptakan konsep pembelajaran yang menyenangkan bagi anak didik.

Terkait pembelajaran berbasis siswa ini sebenarnya merupakan bagian dari konsep pembelajaran berbasis kontruktivisme. Pembelajaran ini menuntut agar siswa bisa saling sharing dengan temannya dan menyampaikan gagasan mereka di kelas.  Pembelajaran ini juga menuntut anak didik agar bisa mengaitkan pengalaman yang pernah di alaminya dengan materi yang akan diajarkan di kelas. Oleh karenanya mereka akan merasa pengalaman yang mereka alami ternyata juga akan bermanfaat dalam menambah pengetahuan baru mereka.

Kenyataannya, meskipun pemerintah senantiasa menggalakkan pembelajaran berbasis siswa ini, masih banyak guru yang belum sepenuhnya menerapkannya di kelas. Hal ini dikarenakan karena kurang taunya informasi bagaimana menerapkan pembelajarannya di kelas; alasan lainnya yakni kurang adanya sosialisasi dari pemerintah tentang tata cara penerapan pembelajaran berbasis siswa tersebut sehingga banyak dari guru yang belum faham tata cara penerapannya. Oleh karenanya, hendaknya pemerintah senantiasa memberikan pelatihan dan sosialisasi tentang teknik pengaplikasian pembelajaran berbasis siswa ini. Agar guru dapat mengaplikasikannya di dalam kelas.

 Terkait kunci dari  pembelajaran berbasis kontruktivisme sebenarnya terletak pada pengubahan  pola pikir guru bahwa bukan lagi berstatus  sebagai pemberi materi tapi mereka harus merasa bahwa status mereka dalam pembelajaran yakni sebagai fasilitator. Ingat, guru tidak akan bisa memindahkan pengetahuan mereka tapi siswalah yang berusaha untuk menggali pengetahuan melalui proses kontruksi berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Oleh karenanya guru harus senantiasa menyediakan lingkungan belajar yang mampu memotivasi belajar anak didik mereka. Agar anak didik senantiasa termotivasi untuk menggali pengetahuan mereka.

Diharapkan dengan adanya pembelajaran yang berpusat pada siswa guru akan dapat menghasilkan lulusan yang menguasai 4 (empat) kompetensi inti lulusan yaitu : kompetensi inti sikap, spiritual, sosial, dan pengetahuan 

Adapun terkait pelaksanaan yang dapat dilakukan guru untuk mewujudkan pembelajaran berbasis siswa ini di antaranya dengan melalui pola diskusi kelompok. Modelnya tergantung kreativitas guru. Yang terpenting kuncinya anak didik bisa saling kerja sama dengan yang lain untuk saling berbagi ilmu. Kemudian setelah sharing dengan rekannya mereka bisa mengambil intisari hasil kerja kelompok berdasar pemahaman diri mereka sendiri.

Dan pada hakikatnya Pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa  ini sebenarnya juga menghendaki hasil belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan intelektual (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Artinya, dalam pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa pembentukan siswa secara keseluruhan merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ini  tidak menghendaki pembentukan siswa yang secara intelektual cerdas tanpa diimbangi olah sikap dan keterampilan, dan sebagainya.

Pendekatan pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih bermakna. Melalui pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ini, siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan informasi itu untuk kehidupannya. Dihubungkan dengan tujuan pendidikan nasional yang ingin dicapai yang bukan hanya membentuk manusia yang cerdas, akan tetapi juga yang lebih penting adalah membentuk manusia yang bertakwa dan memiliki keterampilan disamping memiliki sikap budi luhur, maka pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ini merupakan pendekatan yang sangat cocok dikembangkan.

*) Tina Zulfa Suryani, Dosen Fakultas Tarbiyah INSURI, saat ini sedang menyelesaikan studi S3 (Doktor) Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang. 

PENERIMAAN MAHASISWA BARU