Pergolakan Cinta dalam Penderitaan; Kisah Kasih Cinta Layla Majnun

June, 04 2020 15:57
Pergolakan Cinta dalam Penderitaan; Kisah Kasih Cinta Layla Majnun
Oleh Wahyu Hanafi*

Masih ingatkah kisah kasih dua insan dari negeri Persia yang banyak digandrungi remaja saat itu dan kini? kisah itu acapkali diceritakan dengan dalih nostalgia bagi mereka yang dilanda “kasih tak sampai”. Ya, kisah Layla Majnun. Kisah romance yang ditulis dalam novel karya seorang sufi Maulana Hakim Nizhami di abad pertengahan. Kisah itu menceritakan betapa kekuatan cinta akan mengubah segalanya. Kisah ini jauh ada sebelum kisah Romeo dan Juliet yang terkenal di Barat.

Singkat cerita, kenapa ayah Layla tidak menerima Qays untuk menjadi kekasih putrinya? Bukankah Qays remaja tampan, cerdas dan dilahirkan dari kaum bangsawan. Ayahnya kepala suku Bani Umar. Tak lain alasan itu merujuk pada penampilan Qays yang kumuh karena disandera kegilaan cinta. Layla ialah gadis cantik dengan rambut hitam terurai seperti malam, tak heran ia dijuluki sang malam (Layla), bola mata yang hitam pekat, pipi kemerahan (khumaira'). Layla dilahirkan dari keluarga terhormat. Di usia sembilan tahun memasuki sekolah sudah banyak lelaki yang melamarnya. Namun tak satupun berhasil karena bersikeras ayahnya.

Awal pertemuan Qays dan Layla tidak lepas dari madrasah yang didirikan ayah Qays. Madrasah itu hanya menerima siswa-siswi terpelajar, cerdas, dan keturunan bangsawan. Benih-benih cinta keduanya tumbuh di sudut ruang kelas madrasah. Lirikan mata, gugahan syair dalam risalah yang ditulis keduanya menjadi media pemupuk rasa cinta. Perlahan mereka menjadi tuli dan bisu, dalam artian semua perihal yang ada di madrasah tidak dianggap karena meleburnya perasaan cinta. Perlahan kisah kasih Layla dan Qays didengar teman sekelas hingga masyararakat sekitar.

Mendengar demikian ayah Layla menjadi malu. Karena dalam tradisi masyarakat Persia, menceritakan cinta perempuan di tengah masyarakat ialah suatu yang dianggap naif. Ayah Layla memingit dan mengurung Layla di dalam kamar. Ia tak diizinkan pergi ke sekolah agar tak bertemu Qays. Layla hanya memendam rasa cinta yang terus membakar hatinya. Dalam kurungan kamar, Layla tak ubahnya gadis yang merona. Ia hanya melamun. Hari-harinya dihabiskan dengan melamun. Di luar kamar banyak pengawal. Tak diizinkan sedikitpun keluar kamar kecuali di pekarangan bunga yang dibangun di depan kamarnya. Sesekali ia menulis perasaan cinta di atas tembok. Tak banyak bicara, jarang makan, minum dan istirahat. Kecantikan Layla sedikit memudar karena terlihat lemah dan sakit.

Begitupun Qays, ia hanya merona memikirkan sang kekasih. Ia bertekad keluar rumah, berjalan menelusuri tepi sungai sambil bersyair memanggil Layla. Meniup seruling dan bernyanyi. Sesekali Qays meluapkan cinta dengan menulis risalah syair-syair di potongan kertas dan diterbangkan ke langit. Berharap angin yang membawa pesan itu ke Layla. Ia mengenakan pakaian yang sudah lusuh, tak dicuci berhari-hari serta bau badan yang menyengat. Serentak masyarakat menganggap Qays telah gila. Ya, memang gila karena cinta. Sebab itu Qays disebut "majnun". Sebuah julukan hina atau laqab makhsush bi al-zammi dalam tradisi Arab. Qays tinggal di reruntuhan bangunan berbulan bulan, tak ada yang dilakukan kecuali diam dan bersyair untuk Layla. Binatang-binatang buas di sekeliling bangunan kini menjadi lulut dan menemani Qays. Qays sangat menyayangi binatang-binatang itu.

Mengetahui kegelisan yang diderita putranya, ayah Qays mengirimkan kafilah untuk melamar Layla. Ditemuinya ayah Layla. Ayah Qays menyampaikan niat baiknya. Mendengar itu, ayah Layla berkata "bagaimana bisa saya mengawinkan putri saya dengan pemuda yang gila dan linglung, tolong anda mengerti jika anda di posisi saya. Saya menghormati kekayaan, kehormatan keluarga anda. Namun perihal cinta tak bisa disatukan dengan hilangnya akal”, ujarnya. Ayah Qays pergi meninggalkan singgahsana istana dengan perasaan sedih. Misi baik yang dibawa dari rumah gagal di perujung istana. Ia merasa kasihan melihat putranya mengalami nasib yang tak jelas lantaran dimabuk cinta.

Layla mendengar jawaban ayahnya. Bukan semakin mengalihkan perasaan cintanya kepada Qays, namun semakin menambah kuat cintanya. Ia menemui ayahnya dan berkata "ayah, kenapa engkau tak izinkan saya bertemu Qays?", ayah menjawab "saya tak izinkan kalian bertemu pemuda gila itu, dimana harga diri ayah jika engkau menikah dengannya, saya akan menikahkanmu dengan  pemuda lain yang lebih baik", sahutnya. Tak lama Layla dinikahkan dengan pemuda bernama Abd Salam. Pernikahan yang dibangun tanpa percintaan itu berlangsung di hadapan tamu-tamu besar. Tak ada raut bahagia di muka Layla. Layla ialah gadis jujur, di tengah malam pernikahan ia memberanikan diri berkata kepada suami "kita sudah menikah, tapi kita tidak akan beristri, maafkan saya yang belum bisa mencintaimu, karena memang saya menunggu kekasihku", Abd Salam menjawab "saya senantiasa menanti cintamu dan tak memaksamu". Bahtera rumah tangga dijalani tanpa percintaan. Mahar emas seolah menjadi hiasan dinding kamar. Layla tak banyak bicara. Ia hanya berbicara saat ditanya, itupun sekedarnya. Abd Salam mulai tak kuasa. Ia tak mendapat kebahagiaan selama pernikahan hingga diperujung kematian.

Berita pernikahan dan meninggalnya Abd Salam didengar oleh Qays. Ia memberanikan diri pulang ke rumah. Bertemu ayah dan bersujud di ujung kaki ayahnya seraya berkata "ayah, maafkan saya yang telah menyusahkanmu, bunuhlah saya jika engkau mau, saya memang tidak bisa hidup tanpa cinta". Ayah menyahut "engkau tidak salah nak, engkau tetaplah putra ayah satu-satunya". Lalu Qays memasuki kamarnya yang telah lama ditinggal. Beberapa hari kemudian datanglah teman Qays saat di madrasah bernama Ammar. Saat di madrasah, Ammar dikenal dengan siswa yang tak terlalu pintar, namun ia menyukai perihal strategi perang. Jauh hari ia sudah mendengar kisah cinta Qays, namun kini ia ingin mendengar langsung dari sahabatnya itu.

Serontak, Ammar mengajak pasukannya untuk mengepung istana ayah Layla. Ia memutuskan, jika tidak bisa dengan jalan damai, maka jalan perang dinilai lebih mengena untuk mendapat cinta. Pasukan istanapun juga tak kalah. Mereka saling berperang dan baku hantam dilengkapi senjata tajam. Pasukan yang gugur mulai banyak baik dari pasukan Ammar maupun istana. Di tengah keramaian perang, Qays berlari dan menolong satu per satu pasukan yang bersimpuh darah, terutama dari pasukan istana. Melihat kenyataan demikian, Ammar bertanya “Qays, apa yang kamu lsayakan hingga menolong musuhmu?” Qays menjawab “bagaimana saya bisa merelakan pasukan yang gugur dari orang yang saya sayangi”. Ammar membiarkan apa yang dilakukan Qays hingga akhir peperangan. Karena banyaknya pasukan istana yang gugur, ayah Layla memukul mundur pasukan dan menyerah seraya berkata “wahai pemuda, apa yang engkau inginkan? jika engkau inginkan putriku, maka ambillah, tapi saya tidak rela jika putriku menikah dengan pemuda gila itu”. Ammarpun terdiam dan memukul mundur pasukan yang tersisa untuk kembali ke markaz.

Peperangan bukanlah solusi drama percintaan ini. Layla masih tinggal di istana dan belum diserahkan kepada Ammar. Ammar tak jadi menawan Layla lantaran bingung karena ayah Layla tak mau menikahkan putrinya dengan Qays. Derita Layla semakin menjadi-jadi karena terbakar arus cinta. Kini Layla menjadi sakit, raut mukanya menjadi lebih tua dibanding remaja diusianya. Ia tak makan hingga berujung sakit dan meninggal. Dengan kesedihan mendalam, ayah Layla menguburkan Layla di pemakaman sekitar Istana.

Berita kematian Layla didengar oleh Qays. Ia bergegas berlari hingga ia jatuh pingsan. Sadarkan diri dan tak bisa berjalan. Qays merangkak sampai ke penghujung kuburan Layla. Berhari-hari ia mendekap kuburan Layla sembari berkata “aku tak mampu hidup tanpamu, kini kau telah tiada. Namun cintaku padamu akan kubawa hidup hingga mati”. Berhari-hari Qays mendekap kuburan Layla tanpa sepengetahuan seorang. Tak ada asupan makanan yang masuk dalam tubuhnya hingga Qays meninggal dunia di atas kuburan Layla. Dua hari kemudian, jasad Qays ditemukan seorang petani yang hendak berladang. Ia menjerit dan meminta pertolongan masyarakat sekitar. Masyarakat mengenal jasad itu lantaran Qays ialah putra kepala suku Bani Umar. Qays dimakamkan bersandingan dengan Layla.***

*) Wahyu Hanafi, dosen Bahasa dan Sastra Arab INSURI; Editor in Chief Jurnal Aphorisme