Quality Management Peradaban Mesir Kuno

July, 09 2019 08:41
Quality Management Peradaban Mesir Kuno
Oleh Suad Fikriawan*

Perkembangan teknologi informasi yang pesat tentu semakin memudahkan orang-orang mewujudkan dunia fiksi menjadi nyata. Kita lihat saja seperti google sang mesin pencari. Dimulai dari satu jendela, semua orang dengan mudah menjelajah dunia, belajar semua hal, berjejaring sosial, berbagi ilmu, mengkampanyekan kegiatan sosial, sampai menciptakan hal-hal baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Mereka yang menangkap peluang besar (apakah sang pemilik google atau orang yang memanfaatkan google untuk sesuatu yang lain) selalu membaca dan memahami masa depan dengan bertolak dari cerita-cerita luar biasa di masa lalu. Karena kehidupan manusia dan kesuksesan di dalamnya memiliki rantai ekosistem yang berkelindan.

Sebelum era millenial ini pun ketika revolusi agraria pada 12.000 tahun yang lalu dimulai. Fir'aun Senusret III dan putranya Amenemht III yang berkuasa di Mesir Kuno dari tahun 1878-1814 SM membutuhkan bahan dasar yang diperlukan untuk memperbesar dan memperkuat jejaring inter subjektifnya. Pertanian yang pada masa itu mampu menghidupi ribuan orang di kota-kota padat dan ribuan tentara angkatan perang yang kokoh memerlukan irigasi yang baik. Dengan demikian, maka dibangunlah lembah Fayum yang merupakan sistem yang rumit sebuah bendungan, waduk, dan kanal-kanal kecil yang membelokkan air Nil ke Fayum hingga menciptakan danau buatan raksasa yang menampung 50 miliar kubik air (sebagai perbandingan Danau Mead, waduk buatan terbesar di Amerika Serikat yang dibentuk oleh Bendungan Hoover hanya menampung 35 miliar meter kubik air).

Proyek raksasa Fayum memberi Fir'aun kekuasaan untuk mengatur Nil, mencegah banjir destruktif dan menyediakan bantuan air yang sangat berharga pada masa-masa kekeringan. Selain itu, proyek itu merubah secara drastis rawa-rawa yang penuh buaya yang dikelilingi gurun tandus menjadi lumbung pangan Mesir.

Pada masa itu pula, Mesir tak punya buldoser maupun dinamit. Mereka bahkan tidak punya alat-alat besi, kuda-kuda pekerja, atau roda-roda (roda belum digunakan secara umum di Mesir hingga sekitar 1500 SM). Alat perunggu dianggap sebagai teknologi unggulan, tetapi benda-benda itu begitu mahal dan langka sehingga sebagian besar pekerjaan bangunan dilakukan dengan alat-alat yang hanya terbuat dari batu dan kayu, dioperasikan dengan kekuatan otot manusia. Banyak orang berpendapat bahwa proyek-proyek bangunan Mesir Kuno, semua bendungan dan waduk serta piramida pasti dibangun oleh makhluk asing dari luar angkasa. Bagaimana mungkin sebuah budaya bahkan belum punya roda dan besi mampu menghasilkan keajaiban seperti itu?

Tetapi kenyataannya sangat berbeda. Orang Mesir membangun Danau Fayum dan Piramida bukan berkat bantuan makhluk langit, melainkan berkat keterampilan organisasi yang dahsyat. Dengan mengandalkan ribuan birokrat melek huruf, Fir’aun merekrut puluhan ribu buruh dan makanan yang cukup untuk mempertahankan mereka hingga bertahun-tahun. Ketika puluhan ribu buruh bekerja dengan rentan beberapa dekade, mereka bisa membangun sebuah danau buatan dan piramida hanya dengan alat-alat batu. 

Fir’aun sendiri hampir tidak pernah mengangkat satu pun dari jarinya. Dia tidak mengumpulkan pajak sendiri. Dia tidak menggambar sendiri rencana-rencana arsitekturya, dan dia pasti tidak pernah mengangkat sekop. Namun orang Mesir percaya bahwa doa pada Fir’aun (sang tuhan bernyawa itu) dan pada patron surgawinya yang dapat menyelamatkan Lembah Nil dari banjir dan kekeringan. Dan mereka benar, bahwa imajinasi yang hampir tidak dapat diwujudkan melalui kuasanya (rencana, dan organisasi yang dahsyat) dapat terwujud menjadi nyata hingga saat ini. 

Dalam pandangan penulis, sedikit ilustrasi di atas mengajarkan betapa suatu organisasi membutuhkan dua unsur penting. Pertama visi yang melampaui sekat-sekat umur seorang manusia. Kedua, imajinasi tuhan yang memancar dari figur seorang pemimpin. Unsur yang mertama memerlukan Total Qality Management yang sungguh-sungguh dan dilakukan oleh orang-orang yang cerdas, berdedikasi, dan memiliki komintem yang tinggi. Sedang unsur kedua memerlukan seorang yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi surgawi bagi orang-orang dalam organisasinya. Jadi, suatu peradaban (organisasi) menjadi maju dan dikenang dalam sepanjang sejarah umat manusia bukan karena suatu keajaiban yang datang secara tiba-tiba atau karena teknologi yang super canggih. Wallahu A’lam. 

 

 

 

*) Suad Fikriawan, Dosen Ekonomi Islam dan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) INSURI. Saat ini sedang Menempuh Program Doktor Ekonomi Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PENERIMAAN MAHASISWA BARU