Refleksi Kemerdekaan Indonesia; Sebuah Anugerah atau Musibah?

August, 09 2019 10:49
Refleksi Kemerdekaan Indonesia; Sebuah Anugerah atau Musibah?
Oleh Asfahani

Bulan ini sudah memasuki Agustus 2019, di mana seluruh masyarakat Indonesia bersuka ria mengibarkan bendera merah putih dan menyambut bulan kemerdekaan Indonesia ini dengan meriah. Kita sebagai bagian dari negara republik Indonesia sudah pasti merasakan dan mengetahui bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka selama 74 tahun. Itu artinya negara kita tercinta ini sudah tidak baru merdeka tetapi sudah puluhan tahun merdeka. Namun apa yang masyarakat Indonesia rasakan saat ini? Sebagian masyarakat Indonesia masih hidup seperti di negara yang belum merdeka. Mengapa demikian? Kita tahu sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengenyam pendidikan tinggi karena berbagai faktor, masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, terjadinya kesenjangan dan kecemburuan sosial yang mengakibatkan ketidak seimbangan pola kehidupan masyarakat Indonesia, serta mereka belum bisa hidup damai karena percekcokan masalah politik yang menimbulkan kegaduhan dan perubahan persepsi atas perbedaan yang kita miliki.

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) dihitung per-Maret 2019 angka kemsikinan Indonesia mencapai 9,41% meski termasuk terendah sepanjang sejarah, namun itu tetap merupakan total angka yang harus segera diselesaikan. Dan menurut Global Innovation Index (GII) tahun 2019 dirilis tanggal 29 Juli 2019, Indonesia masih rendah inovasinya yakni memiliki skor 29,8 atau peringkat 85 dari 129 negara dunia dan kedua terendah di ASEAN. Sedangkan hasil survei Transparency International tercatat Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada urutan ke empat di tingkat ASEAN. Hal ini sangat disayangkan sekali, mengingat peringkat tersebut merupakan simbol kualitas sumber daya manusia Indonesia yang masih lemah dalam berbagai aspek bidang kehidupan.

Pada hal dengan melihat realita yang ada, Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil bumi dan sumber daya alam yang luas, bahkan hasil kelautan juga amat melimpah. Lalu kenapa Indonesia masih mengimpor garam dan mengimpor beras jutaan ton per tahun? Kita tahu Indonesia adalah negara agraris penghasil semua itu. Tentu hal itu tidak serta merta ada, namun disebabkan karena tidak adanya tanggung jawab pejabat di bidangnya, dan sikap rakus pemerintah yang menanganinya. Indonesia masih terjajah dari negara lain secara ideologi yang nota bene penganut ideologi pancasila yang tengah digoncang dengan arus globalisasi, bahkan maaf, Pemerintah sendiri masih selalu bertopeng demokrasi namun yang sebenarnya kapitalisme lah arah pergerakannya. Negeri ini seakan negeri yang tanpa memiliki prinsip, masih mudah diombang ambingkan negara lain, negeri yang penuh ketidak pastian karena berjalan tidak sesuai koridor ajaran ideologi yang dimiliki. Kapitalisme telah menguasai negeri kita ini, dan kita hanya sebagai penonton dan budak di negeri sendiri.

Lalu muncul pertanyaan besar di mana letak kemerdekaan Indonesia? Padahal telah diamanahkan dalam pembukaan UUD 1945 bahwasanya “kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanuasiaan dan perikeadilan”. Sedangkan arti kata “merdeka” dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) yakni memiliki tiga arti; 1) bebas dari penghambaan, penjajahan, dan lain sebagainya), berdiri sendiri; 2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa. Dari devinisi dan realita yang ada, apakah layak negara Indonesia dikatakan negara yang sudah merdeka? Apakah masyarakat Indonesia benar-benar sudah merasakan merdeka sepenuhnya? Pertanyaan itu merupakan refleksi mendalam kepada generasi pemuda penerus bangsa ini di mana kemerdekaan yang kita impikan selama ini belum tercapai secara seutuhnya, bahkan kemiskinan dan kebodohan masih merata di negeri ini.

Jika kita melihat Indonesia secara luas dengan berbagai perkembangan dan permasalahan, muncul pertanyaan besar apakah kemerdekaan Indonesia bisa kita sebut anugerah atau bahkan musibah? Meski secara umum, sebenarnya makna kemerdekaan itu bisa berbeda-beda tergantung cara memandangnya. Menurut penulis, kemerdekaan Indonesia bisa dikatakan sebuah “anugerah” apabila kemerdekaan Indonesia mendatangkan kebaikan, kemaslahatan, kedamaian, kesejahteraan, kenyamanan, keamanan, keadilan yang merata, dan ketenangan bagi masyarakat Indonesia sehingga memunculkan rasa syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Karena sejatinya kemerdekaan Indonesia merupakan rahmat dan karunia dari Allah Swt. Melalui para pejuangnya yang benar-benar totalitas memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sebaliknya kemerdekaan Indonesia dikatakan sebagai “musibah” apabila kemerdekaan itu malah mendatangkan keburukan, keserakahan penguasa, money politic, teroris, penjajahan dari dalam maupun luar (meski bukan melalui penjajahan fisik), ketidakharmonisan ras, suku, agama, banyaknya pengemis berkeliaran, anak jalanan, pengangguran, pencurian, pelecehan seksual, korupsi di mana-mana, dan kejahatan lainnya. Bahkan budaya ketimuran yang ramah, saling berbagi, gotong royong hampir punah, berganti dengan sikap individualitis yang sangat jauh berbeda dengan sifat kemanusiaan lainnya.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah selayaknya sadar dan menghargai perjuangan para pahlawan, para pendiri negeri ini dengan menjadikan dirinya berkualitas, memiliki etos kerja yang tinggi, loyalitas, disiplin dalam hal apapun, berfikir maju dan inovatif, memiliki rasa tanggung jawab penuh, berjiwa sosial tinggi, bersungguh-sungguh dalam belajar dan bekerja serta tidak mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. Kita ingat semboyan bung Karno “berikan aku seribu orang tua ku cabut semeru dari akarnya, dan berikan aku sepuluh pemuda, maka akan ku guncang dunia”. Betapa luar biasa peran pemuda terhadap nasib bangsa ini ke depan, bung Karno yakin peran pemuda jauh sangat besar dari pada peran orang tua untuk meningkatkan kemajuan bangsa Indonesia tercinta ini.

Oleh sebab itu, mari para generasi pemuda harapan bangsa, di tangan engkaulah tegaknya bangsa ini, jadikan kemerdekaan negara republik Indonesia sebagai anugerah yang harus tetap dijaga dan dilestarikan serta ditingkatkan kemajuannya dengan kerja keras membangun bangsa ini dalam segala aspek bidang kehidupan bangsa, agar tidak terganti dengan ideologi dan ilfiltrasi budaya asing yang bisa menghapus identitas dan jati diri ketimuran bangsa Indonesia ini. Akhirnya kita hanya bisa berdoa semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, maju dan berwibawa hingga menjadi Baldartun Thayyibatun wa Robbun Ghofuur. Wallahu a’lam bis showab. NKRI Harga Mati, Salam Perjuangan...!

*) Asfahani, Dosen Fakultas Tarbiyah INSURI Ponorogo.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU