Resiliensi dan Memutus Spiral Perundungan

February, 18 2020 11:57
Resiliensi dan Memutus Spiral Perundungan
Oleh Murdianto An Nawie *

Saya memberanikan diri menulis suatu kisah. Kisah perundungan. Orang lain ada yang menyebutnya Bullying. Kisah ini adalah sebentuk solidaritas dan ajang berbagi. Sebagai orang tua dari anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh kita perlu saling menguatkan. Ditengah maraknya kenyataan terjadi perundungan disekitar kita. Sebutlah kisah seorang remaja, usia 16 tahun. Baru saja lulus sekolah menengah pertama, tepatnya sebuah madrasah Tsanawiyah  di suatu kota kecil di selatan Jawa. Saya tuturkan kisah sebagai dituturkan oleh orang tuanya.

"Lirik lagu Korea, banyak mengungkap motivasi diri, keyakinan diri dan sejenisnya. Sementara di Jawa, liriknya sering berkutat pada cinta yang tak sampai karena kelas sosial, perpisahan karena masalah ekonomi dan sejenisnya. Dan itu juga lazim di India, sesama dunia ketiga. Meskipun tak semua, tapi begitulah kecenderungan nya. Barat beda lagi..." kata anak Sulungku. Entah dari mana kesimpulan itu diperolehnya, saya hanya bisa tersenyum. Rupanya ada yang sedikit 'nurun', komentator seni 'amatir'.  Meskipun hampir 4 tahun di pesantren di dua kota, rupanya si Sulung masih mengamati soal ekspresi seni alias lagu mulai K Pop hingga lagu versi Ambyar yang belakangan menjadi trend.  Tak apalah, hobby menjadi komentator atas musik ditengah aktivitasnya ngaji sambil belajar di kelas khusus di sebuah Madrasah Negeri di kota kecil ini. Si Sulung kini terus mengolah kemampuan bahasa asing yang disukainya, dan juga belajar 'public speaking' (dari nge-MC hingga debat) multi bahasa. Saya bersyukur, si Sulung kembali dalam kondisi yang baik. Semenjak usia balita kecenderungan bakat dan kecerdasannya sebenarnya telah tumbuh sejak belia. Kemampuan musical, verbal, visualnya memang nampak menonjol.  Begitu jika  mengingat masa kecilnya. Hingga kisah hidupnya, terganggu sejenak karena mengalami Perundungan.  

Kisahnya bangkit bukan hal yang mudah. Perlu waktu yang cukup. Enam bulan dengan penuh dinamika. Kisah perundungannya dimulai ketika, dia mulai ketika si Sulung pindah pesantren, ke salah kota besar di Jawa. Sulung bertemu kawan-kawan barunya. Rata-rata kawannya adalah anak-anak metropolis. Orang tuanya kalangan adalah kalangan jetset. Elite politik, pengusaha kaya hingga birokrat yang kehilangan akal mendidik anaknya. Saya mengerti, memang banyak orang tua kehabisan akal mendidik anak di tengah zaman yang sedang berubah. Pesantren adalah satu-satunya pilihan. Pesantren dianggap dapat menjinakkan anak paling ‘bengal’ sekalipun. Si Sulung bertemu dengan kawan-kawan baru se Nusantara dengan berbagai tipikal, dan kisah hidup mereka sebelumnya. Dan kisah Si Sulung menjadi korban perundungan dimulai.

Sebagaimana kita tahu dibanyak pesantren, dipagi hari mereka mendapatkan pendidikan diluar kompleks asrama. Di sekolah atau madrasah (formal).  Si Sulung mengaku dirinya mengalami perundungan pertama dalam kelas barunya saat dirinya mulai terlihat aktif dalam pembelajaran. Dia hobby bertanya kepada guru saat diberi kesempatan, sebagian kawannya tidak suka. Selepas guru keluar, satu persatu umpat dan olok-olok diterimanya. Kata “sok tau lu” adalah makanan hariannya di kelas, terutama saat waktu ganti pelajaran. Jeda antar jam dan jam kosong adalah jam paling rawan bullying di sekolah dan madrasah. Hingga suatu ketika, si Sulung memberikan reaksi untuk melawan perundungan verbal, yang terjadi lebih parah. Dia mendapatkan intimidasi dan ancaman kekerasan. Hingga suatu ketika dia melihat kawan sekelasnya yang lain dipukuli bergantian oleh seniornya, karena di tuduh mencuri. Nyalinya makin ciut

Hari-hari berganti. Hingga minggu menjelang. Tekadnya untuk kerasan di pesantren barunya mulai tak bulat lagi. Setiap jeda waktu dia telpun, menggunakan telpun pengurus. Atau sekali waktu di wartel terdekat. Ibunya terus mendengar keluh kesahnya, dan terus memberi motivasi. Selang beberapa waktu, mendapatkan waktu mendapatkan jadwal kunjungan orang tua. Dan saat itulah ia tumpahkan kesedihannya pada ibunya.  Sekian waktu berlalu. Minggu berganti bulan. Dia mengalami perundungan yang tak pernah henti. Sebagian kawan mengalami hal yang sama. Si Sulung beruntung sebagian besar hanya perundungan verbal dan intimidasi. Kawannya ada yang lebih buruk.

 Menginjak hari pertama bulan ke empat. Ia tak tahan lagi. Tak ada jalan lain. Sebagai orang tua, dengan berbagai upaya untuk mempertahankannya di pesantren ini. Dan tepat 1 Muharram 1441 H, kami memohonkan Si Sulung untuk Boyong.  Kembali ke pesantren semula sebelum dia pindah. Sulung memilih kembali di dunia yang lebih dikenalnya. Dengan berbagai cara, ayah bundanya memastikan ia bangkit. Orangtuanya belajar, berdiskusi dengan kolega hingga mempelajari jurnal tentang kisah recovery korban bullying. Memberi motivasi verbal. Membacakan secara rutin doa yang didapatkan dari ijazah dari para kiai. Belajar tak langsung, dengan mempertemukan dengan sesama korban yang telah dapat bangkit. Menonton film-film, tentang kisah bangkit para korban perundungan. Tak lupa, ziarah ke makam para awliya.    

Kini Sulung telah kembali. Keyakinan dirinya telah bangkit. Dia kembali pada aktivitas belajar, ‘ngaji’ di pesantren, menjalani hobby ‘cuap-cuap dan latihan bahasa asing’, baca-baca buku sastra hingga non fiksi, dan menikmati musik   Kini, di madrasah barunya, ia beruntung terpilih menjadi ketua kelas. Tekadnya satu: melawan perundungan, menolak bullying.

Kisah diatas adalah kisah Resiliensi. Kemampuan bertahan dalam situasi sulit, kisah keteguhan dan kebangkitan kembali dalam situasi penuh kemurungan. Kisah sembuh dan bangkitnya seorang korban perundungan. Namun tak semua korban perundungan dapat bangkit. Banyak korban perundungan yang jatuh dalam murung yang berkepanjangan. Hingga depresi. Bahkan bunuh diri. Menyakitkan. Ada pula yang berubah menjadi monster, menjai pelaku perundungan dan tindak kekerasan ke sebaya, yuniornya atau orang-orang sekitarnya. Suatu patologi sosial yang mengingatkan kita dengan kisah film Joker: "orang jahat, tak lain adalah orang baik yang tersakiti". Suatu spiral, pendulum teror besar yang berawal dari peristiwa dalam kelas atau gang-gang sempit yakni 'perundungan'.

Memotong Spiral Perundungan

Bullying. Dialih bahasakan menjadi ‘perundungan’.  Saya setuju dengan pemakaian istilah perundungan. Lebih romantik, menunjukkan suasana batin korbannya. Bayangkan jika kita adalah korban. Cobalah melihat video dan baca berita tentang peristiwa perundungan (bullying) di SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo (15/2/2020). Anda akan mulai menyelami bahwa mengalami perundungan adalah kisah menyedihkan dalam hidup. Pelakunya bisa teman sekelas, senior atau bahkan pendidik.

Mendapatkan perundungan bukan hal yang mudah bagi anak anak yang sedang tumbuh menjadi remaja. Ibarat bunga energi, mereka sedang tumbuh dan berkembang. Sebuah energi hidup yang bergerak dari dalam tubuhnya. Sebuah energi yang harus dipupuk dengan lingkungan dan pengalaman positif.  Namun acapkali lingkungan sosial memberikan pengalaman buruk. Anak-anak dan remaja ini mengalami perundungan di sekolah, madrasah atau bahkan pesantren perundungan acap kali terjadi.

Sebagai orang tua, menangani anak korban perundungan , juga tak selalu mudah. Butuh kemampuan menjaga agar tidak kehilangan kontrol diri. Selain itu, pengetahuan yang cukup untuk membangkitkan kembali anak kita yang menjadi korban. Tidak mudah memang.

Namun bukan berarti tanpa kemungkinan antisipasi. Komunikasi yang 'lekat' dan terbuka dengan anak anak kita untuk dapat mendeteksi sejak dini pengalaman anak kita yang sedang mendapatkan perundungan. Mereka akan segera bercerita banyak pengalaman buruknya, jika relasi yang kita bangun dengan anak anak kita terbuka, penuh kedekatan, demokratis dan penuh humor. Bagi anak dan remaja lelaki, ibunyalah tempat berbagi yang tepat. Sebaliknya bagi anak perempuan, ayahanda adalah tempat bercerita yang baik bagi putri nya. Berbagi, terus memberikan support, ‘konseling’ dengan berbagai cara hingga memastikan lingkungan disekitar mereka lebih aman bagi para korban perundungan.

Perudungan adalah rangkaian spiral yang bisa jadi terkait dengan suasana sosial di luar institusi pendidikan. Pada ruang sosial di luar tempat anak-anak kita mendapatkan pendidikan, terlihat mulai defisit empati. Kekerasan, kriminalitas, aborsi, penuh ungkapan kebencian menjadi cerita harian. Situasi sosial eksternal ini dengan mudah masuk kedalam sekolah/madrasah dipermudah melalui relasi sosial di lembaga pendidikan yang cenderung tidak setara, penuh stereotip dan prasangka. Jika sekolah atau madrasah kita penuh dengan prasangka rasial, agama atau gender bahkan kelas sosial, perundungan akan teramat mudah muncul.

Ayo bersama melawan perundungan. Menciptakan lingkungan sosial yang sehat, untuk tumbuhnya bangsa yang optimis. Bangsa yang tidak terjerembab oleh kemurungan panjang, ungkapan kebencian dan balas dendam tak berkesudahan. Bangkit menjadi bangsa yang surplus empati. #Stop Bullying  

* Murdianto An Nawie. Nama pena dari Dr. Murdianto, M.Si. Dosen Tetap Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo  

  

 

PENERIMAAN MAHASISWA BARU