Resolusi Pemberdayaan Pendidikan Anak

August, 07 2019 09:13
Resolusi Pemberdayaan Pendidikan Anak
Oleh Teguh Ansori*

Sering kali mendengar kata pemberdayaan, baik pada forum ilmiah maupun forum non ilmiah. Akan tetapi, makna pemberdayaan itu sendiri kita belum memahami yang sebenarnya. Suharto (2010) mendefinisikan pemberdayaan sebagai sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah sosial. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang baik yang bersifat fisik, ekonomi maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan seringkali digunakan sebagai indikator keberhasilan pemberdayaan sebagai sebuah proses.

Dari pengertian di atas bisa di bahasakan  secara sederhana bahwa pemberdayaan adalah sebuah gambaran yang ingin dicapai dalam rangka mewujudkan kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini seirama dengan tujuan dari dakwah, yang memiliki tujuan hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat dengan cara amar maruf nahi munkar. Dakwah sendiri ada dua macam dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Termasuk yang bil hal adalah pemberdayaan pada kelompok masyarakat atau individu. Di dalam individu bisa diwujudkan pemberdayaannya berupa pendampingan konseling atau semacam nasihat.

Untuk saat ini kasus yang masih hangat adalah banyak sekali orang tua yang masih bingung dan menyesalkan anaknya tidak bisa masuk pada sekolah yang menjadi idaman dikarenakan terkena dampak dari sistem zonasi. Sebagai orang tua, seharusnya tidak lagi menyesalkan sistem zonasi, dan harus memberdayakan anaknya  melalui dunia pendidikan yang ada disekitarnya. Wujud pemberdayaannya adalah penyadaran terhadap diri dan anaknya bahwa sekolah tidak harus di tempat unggulan dan favorit. Aplikasi pemberdayaan dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh orang tua sangat penting bagi masa depan anaknya, utamanya adalah tidak hanya memilihkan sekolah yang unggul dan setelah lulus bisa langsung kerja. Akan tetapi peran orang tua dalam memberdayaakan anaknya melalui pendidikan adalah mengajari ilmu-ilmu yang wajib dipelajari sebagai bekal anak di dunia maupun di akhirat.

Dalam pandangan masyarakat, ilmu-ilmu untuk bekal dunia dan akhirat sudah pasti dikerucutkan kepada ilmu agama. Akan tetapi menurut hemat penulis tidak membagi ilmu menjadi ilmu umum dan ilmu agama. Yang terpenting adalah bagaimana kita memberdayakan anak melalui dunia pendidikan agar kehidupannya itu bahagia di dunia maupun di akhirat.  Di kalangan ulama pun tidak ada pembagaian ilmu umum dan ilmu agama, yang di bahas oleh para ulama adalah bagaimana hukum mempelajari ilmu tersebut. seperti Imam Al-Ghazali (w. 505 H) dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin ada ilmu yang fardu ain dipelajari dan ada yang fardu kifayah dipelajari. Ilmu yang fardu kifayah dipelajari artinya tidak semua orang wajib mempelajarinya, kalaupun sudah ada satu muslim yang mempelajari maka gugur kewajiban untuk mempelajari seperti mempelajari ilmu kedokteran, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, dan sebagainya sementara ilmu yang fardu ain dipelajari, maka setia orang wajib untuk mempelajarinya dan tidak boleh diwakilkan kepada orang lain.

Syekh Zainudin Al-Malibari (w. 987 H) di dalam kitabnya Mandhumatul Hidayatil Adzkiya Ila Thariqil Auliya yang kemudian diperjelas lagi oleh Sayid Bakri Al-Makki (w. 1310 H) dalam kitabnya Kifayatul Atqiya Wa Minhajul Awliya”, bahwa ada tiga ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Ketiga ilmu tersebut adalah ilmu akidah, ilmu fikih dan ilmu akhlak.

Pertama, ilmu akidah yakni ilmu yang mengenalkan seseorang kepada sang pencipta, ilmu ini menjadikan akidah atau kepercayaannya menjadi benar sesuai dengan akidah yang dianut oleh para ulama ahlussunah wal jama’ah. Dengan mempelajari ilmu ini, maka seseorang akan terjaga dari akidah-akidah yang merusaknya, seperti saat ini marak sekali HTI dan wahabi, syiah. Ilmu ini banyak dipelajari dikalangan pesantren, oleh karena itu ilmu akidah sangat langka sekali didapat di sekolah-sekolah umum.

Kedua, ilmu fikih yakni ilmu yang menjelaskan tentang bagaimana kita berhbungan kepada Allah, sebagai contoh tata cara melakukan salat, bagaimana tata cara mengerjakan sholat dengan baik dan benar. Kalau kita perhatikan banyak sekali generasi saat ini banyak yang tidak hafal terhadap bacaan salat. Belum lagi tentang tata cara menjalankan puasa, zakat, dan haji. Ilmu fikih sama halnya dengan ilmu akidah, tidak dipelajari di sekolahan umum yang mempelajari ilmu fikih hanya ada dikalangan pesantren. Sangat miris sekali jika anak cucu kita tidak bisa salat, ketika orang tuannya meninggal siapa yang akan menyolatkan.

Ketiga, ilmu akhlak menjadi wajib dipelajari oleh setiap muslim mengingat perilaku orang tidak hanya apa yang dilakukan oleh anggota bada secara lahir akan tetapi juga perilaku-perilaku batinnya. Ilmu ini sudah sangat jarang yang mempelajari, ini bisa dibuktikan dari berbagai kasus yang ada di sekitaran kita. Banyak sekali anak yang berani terhadap orang tua dan gurunya, hal ini dikarenakan rusaknya akhlak seorang anak.

Hal ini sudah semestinya menjadi perhatian oleh orang muslim utamanya adalah orang tua  untuk lebih mengutamakan ketiga ilmu tersebut daripada memilih sekolah unggulan. Sudah saatnya pemberdayaan terhadap anak-anak sebagai generasi bangsa agar mereka kuat dalam hal akidah, mempunyai pandangan luas terhadap fikih, dan kepribadian yang unggul, sehingga konsep pemberdayaannya sejalan dengan misi dakwah yaitu menggapai kehidupan yang bahagia aman tentram baik di dunia maupun akhirat.

*) Teguh Ansori, Dosen Fakultas Dakwah INSURI Ponorogo; Aktif dalam program pemberdayaan SDM dan desa; Pengurus PAC GP Ansor Ngrayun.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU