Sintetis Pesantren-Perguruan Tinggi itu Bernama Pesantren Mahasiswa “Sunan Giri” Ponorogo

August, 02 2019 11:02
Sintetis Pesantren-Perguruan Tinggi itu Bernama Pesantren Mahasiswa “Sunan Giri” Ponorogo
Oleh Samsudin*

Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam (tafaqquh fiddiin), dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari (Mastuhu, 1994). Tradisionalisme pesantren yang ditandai oleh beberapa ciri khusus menjadikannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang khas di Indonesia, hal tersebut menjadikan eksistensi pesantren sebagai institusi yang memiliki akar kokoh dalam realitas kebudayaan masyarakat Indonesia. Kekokohan semacam itu sangat penting, artinya, pesantren akan berperan sebagai benteng sekaligus filter yang efektif bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar berpenduduk muslim dalam menghadapi kompleksitas permasalahan dan pengaruh yang semakin hari semakin luar biasa.

Pesantren juga dapat berperan secara fleksibel dalam memberikan jasa pelayanan masyarakat, lebih konkretnya pelayanan bidang pengajaran agama Islam yang merupakan wujud murni aktualitas diri masa lalu dan kemudian bergerak ke bidang-bidang sosial, keterampilan, teknologi informasi dan komunikasi, serta lingkungan hidup. Di sisi lain kiranya benar dikatakan bahwa pendidikan Islam diharapkan mampu mengarah pada pengembangan intlektual dan spiritual. Berdasarkan kenyataan tersebut, untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam perlu dikembangkan model pendidikan yang sintesis antara model pesantren dengan tradisi modern, yang itu sudah dilakukan oleh Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo dengan nama “Pesantren Sunan Giri Ponorogo. Pesantren tersebut diperuntukkan untuk mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di INSURI.

Bagi perguruan tinggi yang bernotabe Nahdlatul Ulama (NU) seperti halnya INSURI, upaya pengembangan model pendidikan yang berbentuk sintetis demikian tidaklah merupakan suatu hal  yang sulit, sebab sesungguhnya kultur NU telah memiliki kekayaan berupa pengalaman dalam pengelolaan lembaga pendidikan pesantren. Bahkan ada ungkapan bahwa NU adalah “pesantren besar” dan pesantren adalah “NU kecil”. Sehingga, jika perguruan tinggi Nahdlatul Ulama tidak mau kehilangan tradisi lamanya yaitu pendidikan yang menekankan pada pengembangan aspek spiritual/akhlak, maka dalam pengembangannya, INSURI perlu menyempurnakan pesantren yang sudah dimilikinya. Sekali lagi yang dimaksud ialah sintetis antara “tradisi pesantren dengan tradisi perguruan tinggi”. Sesungguhnya cara ini telah dimiliki sebagai landasan kuat filosofis “berusaha mempertahankan yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”. Kemudian, di INSURI sering didengungkan jargon “menjujung tradisi menggerakan transformasi”. Melalui sintetis demikian diharapkan lembaga pendidikan semakin sempurna, yaitu mengembangkan aspek spiritual dan akhlak melalui pesantren serta disempurnakan dengan perguruan tinggi yang lebih menekankan pada pengembangan intlektualitas dan profesionalitas. Melalui model ini pula, perguruan tinggi-pesantren (pesantren mahasiswa) akan mereaktualisasikan diri sebagai mazhab kultural dan sekaligus modern. Aspek kultural dimanifestasikan dengan bangunan kepesantrenan, sedangkan aspek modern dimanifestasikan dengan bangunan perguruan tinggi.

Sintetis pesantren dan perguruan tinggi yang dikelola secara professional secara eksplisit dan implisit akan melahirkan berbagai keuntungan, diantaranya terjadinya interaksi yang intens antara orang-orang yang berlatar belakang pendidikan agama agama dengan orang-orang yang berlatar belakang pendidikan umum, sehingga mampu membangun keterjalinan harmoni agama, sosial, intelektual, dan spiritual dengan mengedepankan nilai-nilai kultural serta membangun dan mengikuti nilai-nilai modernitas yang memang menjadi tuntutan masyarakat saat ini.

Pendidikan di perguruan tinggi itu seperti  finishing touch atau penyelesaian akhir dalam dunia sepak bola. Dimana langkah ini menjadi penentu hasil akhir terkait strategi yang dibangun, sehingga akan muncul produk final pendidikan. Minimnya pengawasan orang tua seringkali menimbulkan stigma kebebasan yang sebebas bebasnya bagi mahasiswa. Menjadi mahasiswa sekaligus santri (mahasantri) merupakan langkah alternatif untuk menjauhi perilaku demikian. Pesantren Mahasiswa Sunan Giri yang bertempat di kampus INSURI Ponorogo mulai digagas dan aktif pada tahun 2006. Hadirnya pesantren mahasiswa ini dengan misi mewadahi mahasiswa untuk melengkapi pendidikan Islam selain yang dipelajari di kampus. Namun, di sisi lain kiranya perlu banyak pembenahan di dalamnya terutama aspek pengelolaan dan aktivitas kepesantrenan. Bagi INSURI, mencari tokoh kiai, pengurus dan dewan asatiz untuk mengelola pesantren mahasiswa bukanlah  hal yang sulit, sebab dalam skala mayoritas beberapa dosen INSURI merupakan alumni pondok pesantren salafi (tradisional) maupun khalafi (modern), apalagi jika diperluas sampai ke komunitas alumni. Selain itu, upaya pengelolaan pesantren juga dapat dengan memberdayakan mahasiswa aktif baik S1 maupun S2 yang capable dan kompeten guna mengemban tugas sebagai tenaga pengajar termasuk tenaga manajerial pesantren mahasiswa dengan imbalan bebas biaya SPP sebagian atau seluruhnya.

Aktivitas murni pesantren mahasiswa terutama yang bersifat edukatif sudah barang tentu dilakukan di luar jam formal perkuliahan, sehingga ruang kuliah dan masjid yang ada sangatlah memadahi sambil berikhitiar mewujudkan asrama permanen santri yang hampir terwujud. Walauapun juga disadari bersama, bahwa tantangan terberat juga terletak pada mahasantri itu sendiri yaitu aktivitas selain kuliah. Mahasantri juga berproses dalam organisasi intra dan ekstra kampus yang seringkali berbenturan dengan kegiatan pesantren. Namun, jika ada managerial yang baik dan mengedepankan kompromi, maka segala sesuatunya bisa terselesaikan. Wallahu’alam.

*) Samsudin, Dosen Fakultas Tarbiyah; Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) INSURI; Sekretaris Rijalul Ansor Cabang Ponorogo.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU