Tiga Puluh September Dimata Seorang Guru Ngaji

October, 01 2020 16:28
Tiga Puluh September Dimata Seorang Guru Ngaji
Oleh Jamal Mustofa*

Semalam, seperti biasa beberapa anak murid selepas ngaji, lantas saya ajak ngobrol-ngobrol ringan. Malam ini, beberapa katanya ingin nonton bareng film G 30 S/PKI yang digelar salah satu mesjid di bagian lain dari desa saya. Saya lantas memberikan cerita kepada mereka, tidak terlalu panjang -hanya sak rokok-an- menanti habisnya sebatang kretek hijau kesukaanku.

Perlu saya sampaikan, Beberapa dari murid kelas malam ini sudah ada yang kelas 3 MTs, jadi saya cerita agak serius tentang yang diceritakan film itu. Tentu saja cerita saya berbasis pengetahuan-pengetahuan yang saya peroleh secara parsial sejak tahun 2000-an melalui buku, film (dokumenter), pengalaman (secara sengaja) sowan kepada saksi sejarah, atau keluarganya menjadi korban pemberontakan PKI 1948 di seputaran Takeran Magetan. Bahkan pengalaman tak senagaja bertemu dengan seorang mantan gerwani di Blitar.

Susah payah saya membahasakan kepada para santri diniyah, tentang sesuatu -yang sementara ini- saya anggap sebagai fakta.

Pertama, saya menjelaskan kepada anak-anak belia ini, jika komunis itu teori ekonomi, dan perlahan berkembang menjadi ideologi negara. Ide utama penghapusan kepemilikan pribadi. Saya terus terang ‘belum berani’ mengupas bagaimana kemudian klaim atheis melekat kepada Komunis. Saya lanjutkan cerita bahwa, di Indonesia para pengikut faham Komunis menjadi partai politik dari perpecahan di tubuh Syarikat Islam (SI). Mereka memberontak kepada pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1925-1926.

Saya menjadi bersemangat menceritakan pemberontakan 1948, PKI memberontak di Madiun. Mereka ingin mendirikan negara republik Soviet timur dengan cara revolusi. Mereka membantai lawan lawan politik mereka, terutama Masyumi, yang saat itu tokoh-tokohnya para Kyai. Saya ceritakan bagaimana kekejaman PKI membakar pesantren, mengepung Pesantren Sabilil Muttaqin Takeran, menculik kyai dan membunuhnya dengan cara biadab. Tak lupa saya ceritakan salah satu ulama Takeran, kyai Imam Mursyid sampai kini belum diketahui dimana pusaranya. Saya mendapatkan kabar bahwa kiai Imam Mursyid ini, konon ikut menyusun preambule UUD 1945.

Kedua, Saya bergeser ke 1965. Saya paksakan menceritakan posisi Indonesia di politik internasional sekitar tahun-tahun itu. Bung Karno, adalah presiden yang dengan bangga menepuk dada "iki lho dadane wong Indonesia", sikapnya yang anti nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Politik luar negeri Bung Karno bebas aktif, Bung Karno menginisiasi gerakan Non Blok. Pada saat yang sama, adalah tahun puncak kompetisi antara Blok Komunis yang diwakili Soviet dan Blok Kapitalis yang digawangi Amerika. Gerakan Non Blok yang dirintis Soekarno menjadikan dirinya sangat diperhitungkan oleh kedua Blok, baik blok komunis maupun blok kapitalis. Saya melakukan penyederhanaan begini, gampangannya, komunis (soviet) ingin menguasai dan memperluas pengaruhnya ke Indonesia melalui PKI dan Kapitalis (Amerika) ingin menguasai Indonesia melalui agen proxynya yang ada dipemerintahan. Saya tahu simplifikasi yang saya lakukan ini sangat terburu-buru dan serampangan.

Kenyataan ini membuat Bung karno dipandang oleh banyak pihak, termasuk dunia internasional cenderung berpihak ke blok komunis (Soviet). Menyusul protes kerasnya kepada PBB soal Malaysia. Di Indonesia muncul jargon ‘Ganyang Malaysia,. Inggris kita Linggis, Amerika kita setrika". Malaysia sendiri adalah negara anggota Persemakmuran Inggris yang baru terbentuk yang dianggap Bung Karno sebagai agen nekolim dan musuh abadi NKRI di bawah Bung Karno.

Sikap Bung Karno ini menjadikan dirinya semakin dimusuhi blok Kapitalis terutama Amerika. Posisi Indonesia tahun tahun itu, menjadi seperti momok yang jika dibiarkan akan membahayakan kepentingan kapitalis di Asia Tenggara. Sementara di Indonesia sendiri mereka (blok kapitalis) sangat berkepentingan terhadap keberlanjutan perusahaan-perusahaan Amerika di Indonesia (contoh Freeport). Saya ceritakan ini, sebagai penggambaran bahwa kapitalis sedang berusaha menggulingkan Bung Karno.

Di dalam negeri, tahun tahun itu, konflik politik antara kelompok agama, komunis dan tentara memuncak. Bung Karno yang sejak dulu mengusung gagasan persatuan ideologi dalam ide Nasakom tampak cenderung mendukung gagasan-gagasan yang diusung PKI. Terlebih soal land reform (UUPA) yang sangat didukung PKI bahkan sampai melakukan aksi sepihak "bagi-bagi" batas tanah oleh PKI. Penyederhanaannya PKI saat itu sedang memegang kendali kebijakan presiden.

Di bawah, aksi sepihak yang dilakukan PKI mendapat perlawanan dari kelompok Agama, khususnya NU. Sebagaimana kita tahu, sangat berbeda dengan komunis yang "sama rata sama rasa". Islam tidak membatasi kepemilikan, Islam mengakui kepemilikan dan kekayaan Pribadi dengan mengedepankan kewajiban zakat. Perlawanan terhadap aksi sepihak atas PKI oleh NU itu tak jarang menimbulkan bentrokan bentrokan kecil antar pendukung PKI dan NU. Yang paling terkenal di Blitar, pendukung PKI menyerang Pelajar NU. Sikap kelompok agama terhadap pendukung PKI ini tentu didukung dengan ingatan orang atas apa yang dilakukan PKI terhadap Ulama di Madiun tahun 1948.

Ditengah situasi politik Internasional, perang dingin antara blok kapitalis dan blok komunis, yang mana Indonesia semakin menunjukkan sikapnya. Dalam keadaan politik dalam negeri yang sedang dikendalikan kekuatan politik PKI. Dalam keadaan konflik sosial antara pendukung PKI dan massa pendukung NU. Tiba-tiba tanggal 30 september terjadi tragedi penculikan 6 Jendral, oleh pasukan elit pengawal presiden Cakra Bhirawa.

Sampai di sini, saya bertanya, menurutmu siapa yang menculik para jendral, siapa yang menyuruh pasukan Tjakrabirawa menculik dan membunuh para Jenderal itu? Iya, sama, saya juga bingung, sejak tahun 1999, itu pertanyaan besar saya yang sampai sekarang saya belum bisa meyakini jawaban siapapun. Apalagi jawaban versi sejarah resmi Orde baru.

Saya kemudian bermain logika, saya bertanya kepada anak-anak, jika kamu berkelahi dengan teman mu, lalu kamu menang, teman kamu mati, apa yang akan kamu ceritakan kepada orang-orang?, Apakah kamu akan mengatakan temanmu yang mati itu baik? Atau kamu akan mengatakan bahwa kamu yang benar dan yang mati itu salah kepada mu lalu kamu membunuhnya?

Iya, faktanya, sehari setelah kejadian itu, tentara melalui Jendral Soeharto langsung memimpin pembersihan, menguasai pusat-pusat informasi (RRI dan beberapa surat kabar). Dan hari hari berikutnya, berita yang dikeluarkan RRI dan surat kabar adalah berita bahwa PKI memberontak dan dengan cara yang tidak manusiawi PKI telah menyiksa para jendral sampai mati dan dibuang ke sumur tua di lubang buaya. Gayung bersambut, masyarakat yang sudah konflik dengan simpatisan PKI dibakar dengan berita-berita (yang dibuat) media yang sudah dikuasai tentara.

"Malam sudah larut, silahkan kalau mau nonton film, tapi harus kamu tahu, cerita film itu hanya sampai tanggal 1 Oktober 1965. Dan pemerintah belum membuat film dengan kisah setelah oktober 1965. Era dimana terjadi gerakan 'pembersihan PKI sampai ke akar-akarnya' yang telah mengorbankan ratusan ribu hingga konon jutaan nyawa manusia. Para buruh dan petani yang tergabung dalam BTI menjadi korban, aktivis perempuan, para seniman LEKRA, pemuda yang simpatisan organisasi Pemuda Rakyat,  dihabisi. Semuanya tanpa proses pengadilan.  Belakangan, anak cucu mereka menuntut keadilan, dan bahkan menggalang dukungan Internasional. Kisah pilu tahun 1965-66 ini menjadi kenangan kelam bagi banyak orang." suaraku meninggi. 

"Sudahlah, Satu hal yang perlu kamu tahu, Kyai kita, Gus Dur telah mengajarkan kita untuk memaafkan PKI, dan tentu saja kita juga harus memaafkan kejadian setelah G 30 s/PKI, itu hanya sisi gelap sejarah perpolitikan Indonesia.  Saya, dan kita, tidak mengalami tahun itu, yang kita dengar sekarang, yang kita baca sekarang, hanya versi. Versi siapa dan versi siapa. Soal benar dan tidak nya versi ya tidak ada yang bisa memastikan. Kalau kalian bertanya apa pendapat saya, pendapat saya adalah tidak ada gunanya kita mereproduksi kebencian kepada PKI, sama juga, tidak ada gunanya kita mengutuk tindakan penumpasan PKI oleh tentara. Tidak ada untungnya bagi negeri ini mereproduksi kedua dua nya, hanya akan menguntungkan para pembenci PANCASILA. Kretek hijau saya tinggal secenti, saya harus pulang... doa kafaratul majlis...". Suara angin mulai bertiup pelan...

* Guru Ngaji, Mahasiswa Tingkat Akhir Program Pascasarjana INSURI Ponorogo

Keterangan Foto: Aksi PMII Ganyang PKI pasca 1965