Tuyul-Tuyul Metropolitan; Mentalitas Pengeruk Keuntungan Era 4.0.

January, 28 2020 15:05
Tuyul-Tuyul Metropolitan; Mentalitas Pengeruk Keuntungan Era 4.0.
Oleh Muhammad Misbahuddin

Sepanjang bulan November 2019 hingga Januari 2020, ada dua peristiwa menarik dan menyedot perhatian khalayak, yang berkaitan dengan persoalan ekonomi masyarakat. Pertama, peristiwa Jiwasraya dan Asabri. kedua, peritiwa investasi bodong Mimiles dan investasi bodong lainnya.

Tidak hanya itu, ditengah terbongkarnya investasi bodong yang memakan korban tidak hanya dari kalangan bawah, tetapi juga profesor, doktor, para medis dan tentunya masyarakat awam tersebut, berbagai seminar, sarasehan terkait investasi keuangan hingga fintech terus saja menggeliat di Indonesia. Fenomena ini seakan-akan membangun kembali ingatan kolektif kita akan sebuah media penting dalam memperoleh keuntungan finansial yang sangat mashur pada masa lalu, yaitu tuyul. Kisah tuyul sebagai “penghasil” keuntungan finansial sempat hilang dalam khazanah kebudayaan dunia, di saat dunia memasuki era 4.0, apakah tuyul pensiun? Ternyata tidak demikian kenyataannya.

Di Indonesia, sumber tertua yang memuat kisah tuyul ini tercantum dalam buku yang memuat tentang proses zending di Indonesia, Mededelingen van het Nederlandsch Zendelingen Genootschap vol 4 yang terbit tahun 1860 karya S.E. Harthoorn. Meskipun tidak secara spesifik disebutkan dalam karya tersebut berhubungan dengan ekonomi, tetapi kata tuyul tersebut terselip dalam bagian kecil tulisan tersebut dengan sebutan setan gundul yang berkaitan dengan agama. Biasa jadi ungkapan setan gundul tersebut berangkat dari penampakan fisik makhluk halus yang memiliki kepala plontos.

Pada tahun 1929, dalam jurnal Djawa, istilah hantu penghasil uang mulai muncul dalam khazanah ekonomi. Pada era modern, kisah mengenai tuyul tersebut lumayan komprehensif dapat dilihat dalam karya Clifford Geertz, Santri, Abangan dan Priyayi. Geertz tidak hanya menjelaskan tentang tuyul, tetapi juga mendiskripsikan dengan vulgar mengenai tuyul dan hubungannya dengan perputaran ekonomi. Sehingga para sarjana yang menyebutkan, bahwa Geertz adalah seorang bapak tuyul Indonesia. Ada atau tidak, nyata atau mitos dalam realita historis masyarakat Indonesia bukan menjadi persoalan, akan tetapi pertanyaannya, mengapa khazanah tuyul muncul dan berkembang dalam sistem ekonomi Indonesia?

Tuyul sebagai Simbol mentalitas Budaya 

Sistem ekonomi yang dibangun di Indonesia dibangun sedemikian rupa oleh yang namanya sistem ekonomi liberal. Sistem ekonomi liberal cenderung berorientasi ke pasar. Sistem tersebut mendorong perkembangan ekonomi yang sangat menggembirakan selama 1870-1914. Perkembangan itu membuat ekonomi Indonesia meningkat tajam dalam per kapitanya. Namun demikian, penetrasi kapitalisme yang telah terjadi sejak abad 19 tersebut,  memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap struktur sosial masyarakat pedesaan di Indonesia.

Diferensi-diferensi sosial ekonomi terjadi ditengah-tengah masyarakat, terutama masyarakat desa. Hal mana, kondisi tersebut membangkitkan kelas sosial baru dalam startifikasi sosial. Sebagaimana yang diungkapkn Loekman Soetrisno diferensi sosial ini menyebabkan masyarakat desa terbelah menjadi dua. Pertama, commersialy activity; petani-petani yang memiliki tanah luas, sehingga ia dapat mengakumulir kapital di desa mereka. Selain bertani, mereka juga berdagang di kota dan terkadang masuk dalam birokrasi pedesaan, kedua, kelompok less liberated peasants; mereka buruh tani dan petani gurem yang mulai tumbuh di desa-desa di Indonesia, khususnya di Jawa pada abad 19.

Naiknya para petani sebagai kelas kapital baru, yang awalnya hanya tergantung pada tanah dan menjadikan keterkagetan dalam kehidupan masyarakat. Orang kaya baru (OKB) tumbuh dengan subur pada saat itu. Hal itu membuat lahir keterkagetan-keterkagetan dalam masyarakat. Keterkagetan tersebut tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan dalam masyarakat awam. Di sisi lain, penjelasan mitos, dimana pada abad ke 13, telah beredar kepercayaan tentang pesugihan menjadi sebuah pelarian. Sehingga melalui mitologi pesugihan, logika perubahan sosial itu dibentuk. Hal ini semakin terlihat ketika Pada tahun 1930, pasca terjadinya perang dunia 1 terjadi depresi ekonomi-lebih dikenal dengan istilah malaise-akut di Indonesia, fenomena mitologi tuyul, tenggelam. Krisis ekonomi tidak lagi dibendung oleh tuyul atau setan gundul.

Mentalitas Tuyul Melinial

Proses keterkagetan itu terus terjadi dalam masyarakat Indonesia. Minimnya literasi dan budaya konsumsi yang tinggi membuat keinginan memperoleh keuntungan melimpah membuat budaya ketergantungan akan tuyul semakin kuat. Tuyul yang dimaksud bukan lagi sifatnya abstrak, tetapi dicoba di visualisasikan dalam bentuk-bentuk modern.

Data yang dikeluarkan oleh OJK, sebagaimana yang dimuat di liputan 6 online tahun 2016, menyebutkan bahwa pada tahun 2013 hanya sebesar 21,8 masyarakat Indonesia yang melek literasi keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih menganut pola ekonomi tradisonal. Para akademisi ahli ekonomi lebih senang menjelaskan konsep-konsep ekonomi murni yang membingungkan masyarakat. Angka-angka yang rumit agaknya perlu dibumikan.

Padahal pendekatan sosial dan budaya dalam pengembangan literasi ekonomi sangat diperlukan. Akibatnya, hal itu memberikan keuntungan para pengusaha yang memiliki mentalitas tuyul untuk mengeruk keuntungan haram. Di tengah ketidakpastian ekonomi, para tuyul-tuyul tersebut bergentayangan mencari majikan baru.

*) Muhammad Misbahuddin, Dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo dan Anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Ponorogo serta Pemulung Budaya Masa Lalu. 

PENERIMAAN MAHASISWA BARU